Mountain View, California.

Kehidupan seolah-olah tersenyum kepada Benny. Ia mendapat beasiswa SMA di Singapur, lalu melanjutkan kuliah hingga Master di Amerika. Hidupnya tenang tak lagi direcoki oleh Bryan. Kariernya mentereng di perusahaan startup di Silicon Valley. Vina sedang hamil anak mereka. Sempurna. Hingga sebuah telepon datang, beberapa bulan sebelum Vina melahirkan. Wajahnya pucat mendengar suara di seberang sana.

“Oke. Aku ngerti, Ma. Ya. Minggu depan aku balik,” tegas Benny. “Take care, Ma. Love you.”

Papa ditipu rekan bisnisnya, hingga Papa dikejar-kejar debt collector dan harus dirawat di rumah sakit. Tidak hanya itu, Bryan terlilit utang rentenir hampir 50.000 SGD. Ia harus segera pulang, lagi-lagi membereskan utang Bryan. Setiap hari yang terlambat, semakin berlipat utangnya.

Benny menatap kamar bayi yang baru selesai ia cat, dengan ranjang baru yang baru ia pasang. Di dinding, terpajang foto dirinya berpose dengan bangga di depan kantornya. Rasa perih tanpa bisa ditahan menjalar di dada, semua kerja kerasnya di Amerika, sebentar lagi akan menjadi kenangan. Kadang ia ingin bersikap tidak peduli akan masalah keluarganya, why should he? Namun, hati kecilnya terusik. Tidak, ia anak sulung, sudah tugasnya menjaga keluarganya. Ia tidak bisa tutup mata melihat bisnis yang dirintis Ah Liong hampir hancur. Sebenci-bencinya ia dengan Bryan, ia pun tak bisa menutup mata melihat lilitan utang adiknya. 

Tangan lembut Vina memegang pundak Benny. Benny meraba perut Vina yang mulai membuncit, ia membisikkan maaf. “I’m sorry Vin, we should go back.” 

***

Jakarta

Di Jakarta, kondisi perusahaan ternyata lebih buruk daripada yang ia pikirkan. Benny mengambil keputusan penting untuk menjual beberapa property mereka.

“Rumah Sunter gimana, Ben? Harga tanahnya lagi naik, maintenance-nya juga tinggi. Pak Ah Liong sama Bu Mei Hwa, kan, cuma berdua.”

“Enggak,” potong Benny cepat, “rumah Sunter enggak boleh diapa-apain. Leave it as it is. Jual rumah saya aja,” putus Benny cepat. Rumah Sunter bukan hanya rumah. Rumah Sunter adalah janji Papa kepada Mama ketika ia berada di titik terendah hidupnya. Lebih baik rumahnya yang dijual daripada rumah Sunter.

Jual rumah saya saja.

***

Benny menyeret Bryan yang mabuk dan mendorongnya ke tembok kamar. Di saat ia berjibaku dengan rangkaian rapat, demo buruh yang kena PHK, RUPS, adiknya, Bryan—yang katanya si anak hoki, sibuk mabuk-mabukan. Minggu kemarin, Bryan terbang dengan teman-temannya ke Phuket. Benny marah besar. Ia menyita paspor Bryan.

Lalu sekarang? Adiknya membuat onar di hotel, kebetulan pemilik hotel itu rekan Benny. Mukanya benar-benar dicoreng oleh tingkah Bryan! 

“Lo gila! Kita lagi susah, tahu! Papa baru keluar dari rumah sakit! Gue jualin aset-aset kita, dan lo … lo ngapain? Bantuin gue? Kagak! LO MAEN CEWEK! MABOK TERUS … BERANTEM TERUS!” teriak Benny. Tangannya mendorong Bryan dengan kasar. Bryan diam saja. “Gue dah bekuin kartu kredit lo, gue bakal stop kuliah lo, udah kagak usah kuliah. Lo juga enggak pernah masuk! Jadi gembel aja lo!” Benny membanting pintu dan berjalan keluar.

Wajah Benny merah padam, tangannya mengepal. He hates his brother. Ketika dia harus melupakan kariernya di salah satu perusahaan bergengsi di Silicon Valley, menjual rumahnya demi menyelamatkan usaha mereka, apa yang Bryan lakukan? Main cewek. That useless moron.

***

Benny menaiki dua anak tangga sekaligus. Wajahnya merah padam. Setelah seminggu tidak pulang, Bryan pulang membawa perempuan! Mei Hwa ketakutan Ah Liong akan bertengkar dengan Bryan dan membuat kondisi kesehatan Ah Liong bertambah buruk. Ia buru-buru menelpon Benny. Murka menjalar di setiap jengkal pembuluh darah Benny. Ia menggedor kamar di ujung ruangan. Saat menyadari pintu tak terkunci, Benny mendorong pintu yang langsung terbuka.

“Bryan!” bentak Benny sambil menarik selimut. Selimut terbuka dan Benny mendapati sosok perempuan telanjang di ranjang yang sama. “Sh*t!”

Dengan mata setengah terpejam, Bryan mengubah posisi punggungnya. Benny mencium bau minuman keras dari mulut Bryan.

“Goblok! Bawa perek ke rumah!” Benny mengamuk hingga wanita teman tidur Bryan lari ke kamar mandi karena ketakutan.

Dengan mata setengah terpejam, Bryan mengacungkan jari tengahnya ke arah Benny, “F*ck!”

Benny kehilangan kendali dan mulai menampar Bryan. Bagaimana membuat adiknya sadar? Semua sudah tahu Bryan main gila di luar rumah, tetapi membawa perek ke rumah ketika papanya sakit?

“Lo tidur sama perek, gue enggak peduli! Ngapain lo bawa pulang? Lo mau Papa mati, ha?” bentak Benny.

“Ya! Gue mau Papa sama lo mati!” teriak Bryan tak kalah kencang.

Nasib berkata lain. Bukan Benny maupun Ah Liong yang mati. Justru Bryan yang mengalami kecelakaan fatal.

Bryan … kenapa kerjanya selalu bikin susah orang lain? Di mana Bryan ketika dia susah payah membangun kembali usaha keluarga mereka? Lalu setelah semua berhasil, setelah usaha mereka bangkit lagi bahkan makin kuat, baru dia minta kerja. Huh … yang susah dan kena getah selalu Benny. Bryan selalu dapat yang enak, yang gampang.

Juga soal Lisbeth. Sekian banyak perempuan di muka bumi ini, kenapa yang dia pilih anak Om Wim? Bagaimana kalau Bryan kumat dan main cewek lagi? Now he’s in love, but next year? Ten years from now? Benny tidak berani membayangkan apa yang terjadi jika Bryan kembali seperti dulu dan menyakiti Lisbeth. Ia juga tidak tega, gadis semanis dan sebaik Lisbeth harus menerima Bryan dengan masa lalunya.

***


[1] chū rén yì liào: melebihi perkiraan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here