Clara melirik ke arah Bryan, ia tidak mengerti arah pertanyaan Papa Bryan. Ia berharap Bryan membantunya, tetapi Bryan diam saja.

“Oo … eh … semestinya bisa,” jawab Clara sedikit ragu.

“Kamu sehabis lulus sempet kerja di Guangzhou?” selidik Ah Liong sambil membuka chilli crab keduanya dengan tang.

“Iya, Cek,” suara Clara bertambah pelan.

“Kerja jadi apa?”

Clara diam sejenak sebelum menjawab. “Penerjemah, Acek.” Clara mencoba memberi gambaran pekerjaan yang tidak terlalu spesifik.

“Penerjemah apa?”

“Hmm penerjemah untuk bisnis.”

Ah Liong meletakkan crab-nya dan memandang Clara. “Coba ceritakan.” Ia membasuh tangannya di mangkuk air yang tersedia dan melipat tangannya di atas meja.

Clara berdeham. “Awalnya karena banyak teman Thailand saya yang ketika kuliah membantu pengusaha Thailand buat jadi penerjemah, saya dan beberapa teman ikutan.”

Mata Ah Liong berbinar. Ia hanya berharap menantu yang bisa bahasa Cantonese. Siapa sangka, Clara tidak hanya bisa Cantonese, melainkan memang pernah bekerja sebagai business translator.

“Kok balik? Clara enggak lanjutin?” selidik Ah Liong.

Clara makin salah tingkah. Ini acara makan malam keluarga yang lebih mirip wawancara kerja!

“Mama tidak suka saya pulang ke Jakarta tapi masih bolak-balik China. Saya jadi guru saja.”

Clara tidak mengatakan bahwa ia jelas-jelas lebih suka jadi guru. Ia tidak suka bisnis. Terutama ketika ia harus menawar dengan harga sangat murah, ngotot-ngototan soal harga, bersikeras soal term yang diinginkan kliennya. Belum lagi soal acara makan-makan dan minum-minum. Clara punya aturan yang ketat soal itu. Ia tidak akan minum. Jika ia dipaksa minum, kontrak dengannya batal. Jika klien keberatan, Clara akan menolaknya. Pada awalnya, banyak yang tidak mau, tetapi setelah mereka melihat pekerjaan Clara yang bagus, biasanya mereka setuju.

“Gini lho, La. Acek tuh lagi ngincer mau buka usaha di Guangzhou, sudah mulai cari-cari info. Mungkin nanti dikasih ke Bryan. Kalau Clara bisa Cantonese kan bisa bantuin Bryan,” ujar Mei Hwa sambil menepuk-nepuk tangan Clara. Bisa bantuin Bryan. Jantung Clara sedikit berdebar.

“Bagus kalau Clara sudah biasa zuo sheng yi, bisnis di Guang Zhou.” Ah Liong tertawa puas.

“Kalau sudah menikah sama Bryan enggak perlu kerja lagilah. Bantuin Bryan. Jadi guru kan gajinya kecil,” cerocos Mei Hwa. Senyum Clara yang tadinya mengembang sedikit menyusut. Gaji guru kecil? 

“Gaji guru internasional mestinya lumayan lah, Ma,” kata Vina. “Kamu dibayar pake dolar?”

Clara menggeleng. “Enggak, Ci. Uang sekolah sih pake USD. Tapi guru lokal pakai rupiah.”

“Tuh apalagi bayarnya pake rupiah. Keciiil lah. Gaji Clara berapa sekarang?” tembak Mei Hwa sambil melirik Clara.

Clara lagi-lagi tersudut. Ia tidak nyaman harus memberitahukan gajinya, tetapi ia juga tidak ingin dicap tidak sopan. Apalagi di hadapan orang tua pacarnya.

“Ma, enggak sopanlah tanya-tanya gaji di depan umum.” Benny tiba-tiba angkat bicara.

“Apanya yang enggak sopan. Cuman tanya doang. Ini sama keluarga sendiri. Berapa, La, sebulan? Lima juta ada?” tanya Mei Hwa tanpa menyerah.

Clara tersenyum kecut. “Ada, Ayik.”

“Sepuluh juta?”

“Enggak sampai,” jawab Clara pelan.

“Tuh kan, sepuluh juta aja enggak ada. Moyoung, enggak gunalah. Kamu bangun pagi-pagi, kerja sampai sore. Sepuluh juta aja enggak ada. Dipotong transpor kamu, makan kamu, sisanya kan dikit. Udah berhenti kerja. Ikut Bryan. Enggak perlu kerja capek-capek. Kalau kerja terlalu capek nanti susah punya anak. Kamu kan udah enggak muda lagi.”

Clara hanya tersenyum. Ia berusaha sibuk dengan piringnya. Ternyata memang di mata calon mertuanya, ia hanyalah babymaker factory. Kalimat terakhir mama Bryan menusuk hati Clara. Kamu kan udah tidak muda lagi. Yeah. She knows exactly how old she is, tanpa harus diingatkan oleh tante-tante lain.

“Saya masih ada les-lesan. Kalau ditambah les-lesan, sepuluh juta lebih.”

“Enggak sampai dua puluh juta, kan?” Mei Hwa tidak mau kalah. “Les-lesan mah capek di kamu. Pulang ngajar masih kerja lagi. Ngapain hidup susah-susah. Sama Bryan saja.”

Clara melirik Bryan, tetapi pria itu asyik dengan sambal kangkung dan chili crab-nya.

Inikah masa depannya? Jadi nyonya boneka. Duduk manis. Bantu bisnis suami. Melahirkan anak. Setelah lahir diberikan ke nanny.

“Bryan perlu diurusin. Makannya suka telat. Tidur suka begadang. Mana bisa begitu terus. Perlu cari istri buat bantuin ngurusin. Mama udah tua,” lanjut Mei Hwa.

Yeah … tugas Clara selain jadi nyonya besar boneka adalah mengurus suami. Ia jadi berpikir, pantas mamanya bilang, “Ngapain sih kamu getol amat sekolah. S1 sampai dua. Delapan tahun. Entar akhirnya juga pilihin baju suami, masakin suami.” Ternyata, calon mertuanya sebelas-dua belas dengan mamanya.

Dan yang paling parah. Bryan hanya diam. Ia tidak membantah. Tidak bilang bahwa Clara suka mengajar. Atau jangan-jangan itu juga yang diharapkan Bryan? Clara merasa jadi sasaran tembak. Tanpa ada yang menolong. Inikah masa depannya? Menghadapi mertua yang demanding, yang tidak menghargai dirinya … seorang diri? Karena Bryan … sepertinya … tidak peduli?

Tunggu … Clara dengan tenang menghentikan semua pikiran buruknya. Dengan cepat ia menganalisis pro and cons. Ia baru dua minggu dekat dengan Bryan. Mereka belum bicara soal visi misi. Tentu saja Bryan tidak tahu. Hubungan mereka … PDKT plus plus? Berapa banyak orang yang PDKT sudah diajak makan keluarga? Tak banyak bukan?

Jangan negative thinking, La. Mama Bryan kayaknya suka sama lo. Kayaknya.

Dalam perjalanan pulang, Clara melirik Bryan yang sedang menyetir. Ia tidak bertanya bagaimana pendapat Clara tentang pertemuan tadi. Sebelum turun, Clara mengucapkan terima kasih yang dibalas dengan senyum Bryan.

“Makasih ya, La, sudah sabar sama papa mamaku.”

Hati Clara langsung lumer di depan pagar.

***


[1] Ài de tòng le: mencintai hingga terluka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here