Aku yang tidak menyaksikan langsung peristiwa tragis tersebut hanya bisa berdiam mendengarkan setiap curhatan hati saat berkumpul. Yang ada ikatan persaudaraan antar anggota komunitas semakin erat bahkan tertangkapnya preman yang memperkosa ibu berkat informasi dari komunitas.  Pak Hatta yang menebas parang di kaki preman bahkan meracuninya di penjara tersebut merupakan kaki kanan ketua komunitas. Rasa cinta memang bisa membuat keberanian seseorang berlipat bahkan membutakan. Kedekatannya dengan Brandon lambat laun mencairkan dinginnya ibu walau traumanya belum kunjung berkurang. Mungkin rasa bersalah pak Hatta pada Brandon mendekatkan keduanya. 

Ibu diculik dan diperkosa saat aku berusia empat tahun, dan butuh waktu lebih dari lima tahun agar ibu sudah siap berkumpul bersama lagi. Paman memutuskan menjual rumah yang lama dengan harapan ibu lebih cepat pulih dengan suasana baru. Mulut tetangga sering tidak bisa menjamin kedamaian.

Ibu yang memang berkulit putih dengan badan cenderung langsing, seingatku turun dari mobil dengan langkah layu. Pucat pasi wajahnya tak terlalu terlihat karena tertutup topi yang baru mau dilepas saat jam dinding sudah berdentang saat tengah malam. Sampai sekarang, jika ibu sudah membuka lemari penyimpanan di mana topi itu berada, maka kami harus bersiap lebih mengawasi lebih. Sungguh besar dampak perkosaan tapi sangat miris saat ada saja manusia yang dengan ringannya berkata itu semua takdir. Empati memang sudah langka.

Sungguh mengherankan saat ibu yang trauma dengan perkosaan itu tapi tak sekalipun berusaha menggugurkan kehamilannya. Emak pengasuh yang sudah tinggal bersama kami sampai detik ini selalu saja berdecak kagum, “Ibumu itu berhati malaikat walau harus dirawat khusus. Sedangkan orang ang mengaku sehat malah sering berhati iblis!”

Ayah biologis Brandon sudah tak terdengar setelah diracuni. Brandon tidak juga mencari tahu lebih dalam mengenai preman itu. Sikap dinginnya sering menimbulkan kecurigaan tapi yah begitulah, tiap keluarga ada saja anggota yang unik. Begitu juga dengan diriku yang tak secara langsung terkena imbas dari perilaku ibu, paman dan Brandon. Rasa takut kehilangan sekaligus  hasrat ingin memiliki begitu besar dan terjadi satu waktu. Aku menyadari tapi terkadang tak bisa menahan perilaku dari kehendak tersebut.

Lima belas menit yang lalu misalnya. Nadia meletakan piring kertas berisi Bagelan  dengan kasar di atas meja hingga remahan masuk ke gelas kopi yang kugenggam. Ide yang kukatakan bukan hal yang baru sebenarnya tapi entah kenapa Nadia meradang saat aku yang mengucapkannya kembali. Suaminya mengusulkan agar kedai membuka cabang di stasiun kereta yang lain setahun lalu.  Saat itu aku menolaknya sepenuh tenaga karena keterbatasaan modal, dan Nadia menyatakan sepakat dengan sikapku.

“Aku tahu, ide pembukaan cabang itu upaya mu memiliki Daniel bukan? Winnie sudah bercerita tentang Daniel, dan memang bagus mereka tak bertemu sampai semua siap. Tapi jika rencanamu Winnie lah yang pindah ke cabang dimana sangat jauh dengan rumahnya maka niatmu tidaklah murni lagi. Kamu bukan Tata sahabat yang kukenal!”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here