Saya tergelitik mendengar pidato Presiden Joko Widodo di Hari Ulang Tahun sebuah partai beberapa waktu yang lalu. Di saat bangsa Indonesia sudah dipandang atau dihormati oleh negara-negara barat, beliau sempat menyinggung bahwa banyak ditemukan mental inlander, mental inferior, dan mental terjajah masih bercokol dalam banyak masyrakat Indonesia. Disinyalir, akibat ratusan tahun hidup dalam penjajahan, DNA mental inlander, inferior dan terjajah diturunkan hingga hari ini, padahal kita sudah 76 tahun menikmati kemerdekaan yang diraih dengan perjuangan keras. Pak Jokowi sempat menyampaikan pernyataan, “Ketemu Bule saja Kayak Ketemu Siapa Gitu.”

Masuk akal, sih, Pak. Masyarakat kita menjadi inferior ketika memandang bule karena ada beberapa faktor. Pertama, secara fisik dan kasatmata mereka berbadan lebih tinggi dan lebih besar. Secara ekonomi (mungkin) mereka lebih berada, sehingga bisa bepergian ke Indonesia. Secara pendidikan, negara mereka sudah ratusan tahun berpengalaman dalam bidang pendidikan sehingga bisa dikatakan bahwa pendidikan mereka pasti jauh lebih baik. Lalu yang pasti, masalah kemampuan berbahasa asing itu jadi kendala terbesar untuk bisa bergaul dengan mereka.

Saya cukup beruntung karena memiliki beberapa teman dari negara yang berbeda, yang turut menambah khasanah dalam saya berelasi. Melalui percakapan saya dengan mereka, saya ingin berbagi tentang tiga kapasitas yang perlu dimiliki khususnya bagi kita orang Indonesia supaya bisa membaur dengan para bule.

1. Menyukai petualangan atau tantangan

“Aku masukkan aplikasi baru ke dalam laptopmu.”

“Hmm… aplikasi apa? Apa fungsinya?”

“Dengan aplikasi itu, kamu bisa membandingkan dua tulisan sekaligus. Itu mempermudah untuk memilih tulisan mana yang paling enak dibaca.”

“Tapi aku ngga ngerti apa-apa tentang aplikasi itu. Cukup asing buatku.”

“Kamu bisa mempelajarinya dengan mudah. Aku bisa mengajarimu jika ada kesulitan.”

“Kamu menambahi aplikasi di laptopku. Apa tidak akan membuat laptopku bekerja semakin berat?”

Pola pikir masyarakat barat menganggap tantangan adalah suatu petualangan yang seru untuk dilewati. Sebaliknya, masyarakat timur, cenderung memandang bahwa tantangan itu suatu masalah dan memerlukan daya upaya yang besar untuk mengendalikannya. Jika kita sulit menerima tantangan sebagai petualangan, maka kita cenderung bersikap membatasi diri atau bahkan menolaknya. Kita bukan lagi jadi partner yang mengasyikkan buat mereka.

2. Proaktif dan antusias

“Aku sedang mencari beberapa programer untuk perusahaan tempatku bekerja.”

“Wah, bagus sekali. Bagaimana aku bisa membantumu? Mungkin aku bisa merekomendasikan beberapa temanku.”

“Dalam beberapa minggu ke depan aku akan memanen tanaman padiku. Aku perlu membeli benih yang baru.”

“Apakah kamu ingin aku yang membuat pemesanan benih berikutnya?”

“Aku ingin menulis sebuah buku tentang beternak bebek.”

“Buku…? Bebek…? Tampaknya menarik. Apa yang kau perlukan?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here