“Itu kaligrafi yang ditulis Kohde-nya Yeye yang di Cungkwok*, di Cina.”

“Bacanya apa, Ku?” Ming mendapati empat karakter Mandarin tertulis di sana.

“望子成龙 (wàng zǐ chéng lóng). Mengharapkan anak menjadi naga.”

“Nama Papa ya, Ku?” Ming masih belum puas.

Lanny mengangguk. “Iya. Berharap papamu bisa sukses dalam hidupnya. Bawa hoki untuk keluarga. Jadi penerus keluarga yang bisa diandalkan, yang membanggakan keluarga.”

Lingga menatap kaligrafi itu dengan pandangan yang kabur. Air matanya selalu menetes setiap kali mengingat dan merindukan Ah Lung, suaminya.

“Papamu memang bawa hoki. Nainai sering cerita, setelah papamu lahir, usaha Yeye maju. Enggak cuma sampe di situ; waktu papamu akhirnya bantu Yeye di toko, enggak pernah enggak cuan*, toko untung besar. Enggak salah papamu dikasih nama Lóng. Papamu mewujudkan semua harapan Yeye dan Nainai, mengangkat hidup keluarga perantauan yang dulunya enggak punya apa-apa.”

Martha mengerjap. Bagaimana mungkin seorang yang dianggap membawa keberuntungan dan kebahagiaan, mewujudnyatakan harapan keluarga, di kesempatan yang sama terungkap memiliki rahasia gelap? Ia mengingat raut wajah Lingga dan Lanny tadi, mereka tidak tampak terkejut, malah sebaliknya sangat tenang ketika membahas hal yang membuat petir sambar-menyambar di hatinya.

Baru kemarin ia menangis lama di pelukan John, bagai anak burung yang jatuh dari sarang dan kehilangan induk. Tak pernah dalam hidupnya, Martha merasa selimbung ini. Sekarang ini ia merasa makin tersesat. Tak lagi yakin siapa dirinya.

“Ko, apa … Papa …,” Martha berusaha mencari kata yang tepat, tapi hatinya masih tak rela berucap. Dia ingin memutar waktu dan menghindari pertemuan tadi. Mungkin lebih baik bila ia tetap berada dalam gelap, tak usah mengetahui hal-hal gila ini.

“Papa … ada affair?” Kata itu akhirnya terucap keluar, tapi mengapa malah hatinya yang tertusuk di dalam? “Dia itu anak Papa?”

Ming melepaskan tangannya dari bahu Martha.

“Ta, Koko sudah bilang. Jangan diterusin. Sudah, setop di sini.”

Nurani Martha meronta. Ia tak mau dipenjara dalam kabut. Ia harus tahu semuanya. Siapa dia dan mengapa Ah Lung memberikan bagian warisan untuknya?

Martha merekam pertemuan tadi dalam ingatan. Mana mungkin dia berhenti bertanya ketika semua fakta itu berseliweran di kepalanya. Dia harus tahu. Sejelas-jelasnya.

“Koko yang ajak aku hadapi ini bareng! Jangan salahin kalau aku sekarang enggak berhenti tanya. Sudah seharusnya Koko jawab pertanyaanku.”

Dengan emosi yang memuncak, Martha menutup mata. Imaji sebuah kotak perhiasan dan sebuah dompet berukuran sedang yang diletakkan di meja ruang keluarga kembali muncul.

“Sao, Kohde pernah titip ini. Buat Bayu. Ini buat kalo lamaran,” kata Lanny sembari mengeluarkan seuntai kalung dan liontin dari dompet. Kemudian ia membuka kotak perhiasan, “Yang ini untuk calon istrinya, waktu mau kawin. Kohde bilang, biar bagaimanapun, Bayu ada darah Tionghoa.”

Martha mengingat mamanya hanya mengangguk, mengiyakan perkataan Lanny. Tak ada pertanyaan, tak ada keberatan.

Mengapa papanya harus menyiapkan lamaran dan serah-serahan untuk seseorang yang sampai sekarang tidak ia ketahui jelas hubungannya dengan keluarga mereka?

Martha ingat saat akan melamar Santi, yang sekarang menjadi istri kokonya, orang tuanya menyiapkan kalung dan liontin serupa dengan yang dia lihat di meja tadi. Satu set perhiasan seperti yang dipegang Lanny juga pernah diberikan kepada Santi, kepada calon menantu perempuan, saat sangjit, serah-serahan menjelang pernikahan.

Mengapa dia mendapat perlakuan serupa dengan Ming, putra tunggal keluarga ini?

Mengapa juga mama dan kukunya seperti sudah mafhum akan titipan papanya itu? Begitu berartikah Bayu untuk papanya?

Hati Martha seperti diremas oleh tangan kuat yang tak terlihat. Papa yang begitu dikaguminya memiliki rahasia gelap dalam wujud seorang yang bernama Bayu. Sebuah rahasia yang baru terkuak ketika sosok itu telah tiada.

Selama hidupnya Martha selalu melihat papanya sebagai sosok suami idaman, dia tak akan ragu dengan impiannya memiliki suami seperti Ah Lung. Sekarang ini impian itu runtuh, menjadi puing rongsokan. Perempuan mana yang ingin mempunyai suami yang kawak menyimpan rahasia sekelam ini?

“Siapa Bayu ini, Ko? Please answer me!” Martha memohon. Pilu.

Ming menatapnya dengan pandangan yang sama sedihnya. Martha menangkap keputusasaan di raut kokonya. Koko yang selama ini punya jawaban untuk setiap pertanyaannya, tidak bisa menjawab satu pertanyaan yang sudah dia utarakan beberapa kali dalam waktu kurang dari satu jam ini.

I’m so sorry, kamu harus tahu dengan cara seperti ini, Ta. Koko yakin Papa pasti ada rencana untuk membuka semua ini. I’m so sorry, Papa enggak punya waktu untuk ngomong langsung ke kamu tentang dia.”

Bukan kata maaf yang Martha harapkan. Dia tidak butuh kata maaf. Dia butuh penjelasan. Kebenaran. Walau mungkin hal itu akan semakin membuatnya hancur. Martha hanya menggeleng, seperti menolak simpati dari Ming.

“Ta, denger Koko ngomong, Papa pasti enggak suka kamu begini. Mungkin itu yang membuat Papa belum bisa jelasin semua. Papa mungkin enggak mau menyakiti kita.”

But he did anyway!” Martha tidak bisa membendung air matanya.

Mereka berdua berpandangan dalam hening.

“Jawab, Ko, Bayu siapa?”

*

Yeye (Mandarin): kakek dari pihak ayah.

Nainai (Mandarin): nenek dari pihak ayah.

Kohde: Engkoh (Mandarin, artinya kakak laki-laki) gede (Jawa, artinya besar); panggilan untuk kakak laki-laki sulung.

Cungkwok (Mandarin: Zhongguo): Cina.

Cuan (Mandarin: zhuan): laba, profit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here