Semenjak menikah, dia juga tak pernah membeli kue ulang tahun buat saya. Eh, sejak pacaran juga sih! Alasannya sederhana: dia tidak suka kue! Hahahaha… Sewoles itulah dia menghadapi hari-hari khusus.

Baginya, hari khusus tak harus dilalui dengan hadiah atau menu khusus. Dia lebih suka menghabiskan waktu bersama kami, duduk dan makan bersama. Kurang spesial dan ngga romantis? Saya sudah bilang sejak awal, kan? Begitulah suami saya! Dia tak mengkhususkan hari-hari itu dengan perlakuan yang berbeda, tapi dia menghargai kebersamaan dan berusaha mengupayakannya. Makanya saya jarang menolak kalau dia tiba-tiba mengajak nonton film ketika anak-anak sudah tidur. Selelah dan sepadat apapun hari itu, menghabiskan waktu berdua jadi penutup hari yang manis.

3. Tidak perlu surprise

Bisa ditebak, kan? Ya, suami saya tak pernah muncul tiba-tiba membawa sebuket bunga. Itu hanya terjadi di alam mimpi. Tak pernah ada midnight surprise di hari ulang tahun saya. Menyedihkan ya? Semua itu hanya terjadi di layar perak dan tak harus direplikasi di kehidupan nyata. Jadi, saya sudah belajar untuk tak banyak berharap akan ada hal-hal yang di luar dugaan. Hidup bersamanya mudah ditebak, sepasti matahari terbit dari timur setiap hari.

Dia memang laki-laki yang tak spontan. Dia lebih suka merencanakan hidup dan memastikan semua berjalan dengan baik. Dia tak menghabiskan waktu mencari ide-ide anti-mainstream, dia lebih banyak memikirkan kehidupan dan selalu ingin memastikan kami hidup cukup. Dia tak pernah merasa perlu melirik K-drama untuk inspirasi yang bikin meleleh, dia bekerja keras agar anak-anak kelak dapat mengejar mimpi mereka. Surprise itu elemen yang bukan esensi baginya, hidup seharusnya direncanakan dengan matang dan penuh pertimbangan.

Walau terkadang saya berharap ada keajaiban yang mengubah suami saya jadi sedikit romantis, saya sudah lama menyerah dan belajar menjalani hidup bak teh tawar tanpa gula. Di hari yang tak diduga, kadang teh tawar saya mendapat perasan lemon yang menyegarkan. Makan siang masih beberapa jam lagi, tapi pintu rumah tiba-tiba terbuka. Pelakunya pasti dia; mungkin ada barang yang tertinggal, makanya dia kembali ke rumah (yang hanya semenit jalan kaki dari kantornya). Eh, dia berdiri di sana, sambil senyum-senyum dengan kantung kresek di tangannya. “Tahu isi,” katanya singkat. Memang beberapa hari itu kami sempat ngobrol soal tahu isi, dan membuat kami penasaran mencari tahu isi yang enak di sekitar tempat tinggal kami sekarang. Saya memandang dia, keheranan dengan perilaku yang sangat random ini. Kami pun tertawa terbahak-bahak dan cepat-cepat menikmati tahu isi yang masih hangat, sebelum dia kembali pada pekerjaannya di kantor.

Sudah tahu pasti, kan, kalau memang ketidakromantisan suami saya tidak ada obatnya! Namun, saya menikmati hari-hari bersamanya, sesekali dengan hal random yang di luar dugaan yang pastinya tak dapat dikategorikan “so sweeeetttt“. Asal ada tahu isi dan film favorit, cukuplah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here