Sebaliknya, jika relasi aman dengan ibu tidak terjadi, kita membangun salah satu dari dua (2) macam pola kelekatan, yakni penghindar atau pencemas. Penghindar ditandai dengan reaksi menghindari, menjauhi, membatasi interaksi, karena merasa tidak nyaman, kikuk, risih, dan cemas ketika orang lain aktif mengirimkan pesan yang kita maknai sebagai keinginan untuk dekat dan intim. Bentuk relasi seperti itu asing bagi kita, karenanya kita ingin menghindarinya. Kita bahkan bisa bersikap sangat menyakiti jika merasa orang lain seolah semakin intrusif dengan kehidupan kita. Sikap menghindar ini hendak menyampaikan pesan pada orang lain: “Jangan terlalu dekat dengan saya”; “Jangan terlalu berharap dan mengandalkan saya”; “Jangan terlalu peduli dengan saya”.  

Pencemas sebaliknya, menjadi sangat peka dalam membaca sinyal-sinyal yang dimaknai sebagai penghindaran dan penolakan dari orang lain. Seperti jawaban yang singkat, ekspresi yang dingin, hilangnya kontak secara tiba-tiba tetapi kemudian muncul kembali, kurang dilibatkan dalam kehidupan personal orang lain. Bagi pencemas hal-hal ini dinilai sebagai usaha menolak dirinya. Menariknya, semakin pencemas merasa ditolak, semakin kuat dorongan untuk mendekat dan mengendalikan orang lain. Contoh konkretnya secara ekstrem adalah menjadi penguntit/stalker, dan merasa sangat cemburu jika orang lain tersebut tampak lebih akrab dengan orang-orang lain. Reaksi ini bisa berkembang menjadi sifat posesif. 

Kedua pola kelekatan ini bekerja secara otomatis di bawah pengendalian otak kita, tanpa kita sadari dan kita setel; dan menjadi sebuah natur dalam relasi kita. Dengan orang tertentu kita membawa pola pencemas, dengan orang tertentu lainnya kita membawa pola penghindar. Tetapi sebenarnya pola ini juga dapat diubah karena otak kita memiliki kelenturan untuk dibentuk. 

Nah, apa yang terjadi jika dua orang yang berelasi masing-masing membawa pola sebagai penghindar dan pencemas? Sesunguhnya keduanya tidak akan pernah merasakan keindahan dalam relasi akrab sebuah persahabatan. Inilah yang dinamakan relasi incompatible. Pada awalnya relasi ini merasa menyenangkan karena si penghindar merasa kebutuhannya untuk dibutuhkan terpenuhi ketika si pencemas bergantung kepadanya. Sebaliknya, si pencemas merasa aman karena ia memiliki seseorang yang available untuknya. Namun sampai titik tertentu, si penghindar mulai merasa kewalahan karena ekspresi kedekatan yang ditunjukkan oleh si pencemas membuatnya merasa terancam. 

Si penghindar kemudian “me non-aktifkan” sistem kelekatannya, sementara itu si pencemas semakin “me-re-aktifkan” sistem kelekatannya. Ibarat mesin, yang satu sedang shut down, yang satu malah activating. Keduanya secara mental akan kelelahan. Hingga di titik ini, bagi si penghindar mungkin akan lebih mudah ia memutuskan relasi karena memang demikian kerja sistem kelekatannya. Tetapi keadaan ini lebih menyulitkan bagi si pencemas. Itu sebabnya, biasanya si pencemas masih terus mengharapkan terjadinya reunion, yang dalam bahasa orang sedang putus pacar dikatakan sulit move on.

Jadi, bagaimana agar kita dapat memiliki relasi akrab dalam persahabatan yang compatible, intim, sehat, memuaskan, dan menumbuhkan? 

Pertama kenali pola kelekatan yang kita miliki. 

Kedua, berlatih untuk mengungkapkan kebutuhan kita yang sebenarnya agar orang lain mengenali batas yang harus ia bangun ketika berelasi dengan kita. Jangan menyampaikan pesan yang ambigu karena kita takut orang lain menolak kebutuhan kita atau karena kita sendiri takut dengan kebutuhan yang kita punyai. Anda takut dengan kebutuhan-kebutuhan Anda? 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here