Suatu kali seorang teman yang bekerja pada sebuah Bank swasta di kota kami bercerita, “Gila, Bro! Mereka terang-terangan berselingkuh. Meski sekantor sudah pada tahu, mereka cuek saja. Kelakuannya itu bahkan membuat risih rekan kerja lainnya. Lebih parah lagi, masing-masing dari mereka sudah menikah dan punya anak.”

Meski bukan sesuatu yang baik, selingkuh dianggap hal biasa khususnya bagi orang dengan tuntutan pekerjaan yang berat dan menguras energi. Seolah selingkuh adalah selingan positif atau hiburan untuk meringankan pikiran yang jenuh. Padahal bila dipikir baik-baik, efeknya bisa serupa meteor yang jatuh menabrak bumi dan siap menghancurkan apa saja.

Pepatah mengatakan, “Kebohongan yang dilakukan terus-menerus, lama kelamaan akan menjadi kebenaran.” Bisa jadi, selingkuh yang sering dilakukan, akan menggerus nurani dan menjadi kebiasaan yang tidak lagi menimbulkan rasa bersalah.

Sebelum hal itu terjadi, sebaiknya pikirkan tiga hal ini. 

Pertama, pikirkan kembali penyebab terjadinya perselingkuhan


Hal ini tentu saja beragam. Banyak alasan pembenar, seperti: pasangan selingkuh lebih cocok, lebih nyambung, lebih mapan, dan lebih-lebih lainnya. Ada juga yang memulainya sebatas teman curhat dan ujungnya menjadi jauh lebih dari sekadar teman.

Apa pun penyebabnya, pikirkanlah kembali bahwa selingkuh merupakan langkah salah bagi orang yang sudah menikah. Ibaratnya seperti rumah yang kita tinggali, tidak ada orang yang membangun satu rumah lagi di dalam rumah yang sudah ada, bukan? Apa pun masalah di dalam rumah kita, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki atau merenovasinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here