3. Perkenalan menentukan perjalanan

Sedihnya, setelah hampir satu tahun Covid-19 masuk ke nusantara, masih banyak orang yang tidak mengenalnya dengan tepat. Banyak yang mengartikan Covid sebagai aib dan kutukan, sehingga mengucilkan bahkan mengusir penderita yang sebenarnya butuh banyak bantuan dan dukungan. Di tengah banyaknya kisah gotong royong dan kebaikan hati tetangga yang menyediakan dan membantu penderita di lingkungan mereka untuk pulih, masih ada kisah pilu tentang seorang penderita yang sudah jatuh tertimpa tangga. Ia datang pada pejabat di tempat tinggalnya untuk melapor bahwa ia terpapar Covid; harapan bahwa si pejabat dapat mengambil sikap dan tindakan preventif bagi warga lain pupus ketika ia malah diusir dari tempat tinggalnya.

Kurangnya informasi membuat kita terjebak pada ketakutan dan stigma. Alih-alih mencari solusi bagi kebaikan bersama, egoisme dan rasa ingin aman sendiri merajalela. Orang tak lagi mau membuka diri untuk mendapat informasi yang akurat, dan terperangkap pada mitos dan anggapan yang tak ada dasarnya.

Demikian juga cinta. Kita sering belajar mengenal cinta dengan berbagai pikiran yang tertanam dalam diri. Ketika cinta tak sesuai harapan, kita dengan mudah menutup diri atau dibebani dengan pandangan yang tak memberi solusi.

“Aku ingin calon istri yang langsing dan cantik.” Impian seperti ini dan banyak hal yang senada dengan kalimat ini bisa jadi menghalangimu bertemu dengan cinta yang membawa bahagia, hanya karena kemasannya tak sesuai kemauan. Dengan memberi banyak saringan, bisa-bisa cinta yang terbaik itu terlewatkan begitu saja.

Memang, kesan pertama itu selalu meninggalkan jejak. Namun, jangan sampai kita salah menentukan patokan dan mengabaikan kualitas penting lainnya dari cinta yang sejati. Cinta bukan sekadar tentang pandangan pertama, ia adalah pandangan yang senantiasa tulus apapun perubahan yang kita alami. Cinta bukan tentang senyum manis dan paras rupawan, ia hadir membawa makna dan setia menemanimu melewati duka dan buruknya jalan di hadapan. Cinta bukan apa yang muncul saat perkenalan, ia sejatinya tetap di sisi hingga ujung perjalanan.

Sekarang ini, sepertinya Covid dan cinta memang tak terelakkan dalam kehidupan. Apapun kondisimu sekarang fRRiends, pejuang Covid atau penyintas patah cinta, keduanya harus dijalani sebaik mungkin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here