Ketiga, bagaimana relasinya dengan rakyat? 

Sejak Jokowi sukses mendaki ‘karier’ politiknya mulai dari walikota, gubernur sampai RI 1, banyak orang yang mencoba meniru rahasia suksesnya. Keberhasilan Jokowi disebabkan karena kedekatannya dengan rakyat kecil. Sejak itu istilah blusukan seakan menjadi menu wajib yang perlu dijalani para pendaki jenjang politik atau jabatan. Mesipun begitu, kita bisa melihat mana yang asli dan mana yang palsu. Pertanyaan ini bisa kita jadikan pedoman: Apakah tokoh yang bersangkutan sejak dulu memang dekat dan peduli dengan wong cilik atau tiba-tiba saja suka blusukan ke kampung-kampung, bahkan tempat-tempat kumuh untuk ‘mendengar’ keluhan warga saat mencalonkan diri sebagai pemimpin di daerah tertentu?

Perhatikan pergaulannya selama ini. Apakah dia punya ‘musuh’. Orang seringkali antipati terhadap musuhnya, apalagi perkataan atau pernyataan musuhnya. Padahal, yang sering tidak kita sadari, justru musuhlah yang biasanya paling jujur dan berani mengkritik kita. Bagaimana tanggapan calon pemimpin itu terhadap kritik? Jika dibalik, bagaimana cara dia mengkritik lawan politiknya? Apakah dengan black campaign, hate speech, bahkan rela mengorbankan nilai-nilai luhur dengan menyebarkan hoaks tentang lawannya?

Last but not least, apakah calon itu pernah kalah dalam bertarung saat mencalonkan diri di posisi apa pun? Apakah dia berjiwa besar dan langsung mengakui dirinya kalah, bahkan mau menolong lawannya agar bisa memimpin dengan lebih baik? Atau dia justru mencari berbagai cara untuk melakukan PEMBENARAN, bukan KEBENARAN, atas setiap langkah yang dia tempuh?

Akhirnya, bertanyalah kepada Yang di Atas dan jujurlah terhadap hati nurani Anda sendiri. Siapa calon pemimpin yang menurut hati nurani Anda yang telah diperbarui terus-menerus yang paling cocok memimpin wilayah Anda? Apakah dia maju karena benar-benar ingin memajukan daerahnya atau mengumpulkan pundi-pundi yang lebih lagi dari jabatan strategis yang dia emban? Cara melihatnya adalah sekali lagi dengan rekam jejaknya dulu. Apakah saat memimpin di tempatnya yang dulu dia lebih mengutamakan  profesionalisme dan hati nurani yang bersih atau menghalalkan segala cara agar tetap memimpin? Apakah dia bagi-bagi kekuasaan karena mau tidak mau, rela tidak rela, sudah mengikat janji dengan partai politik atau kelompok massa yang dulu mendukungnya?

Profile Picture seorang presenter TV, foto monumen di depan kantor PBB di New York, yang saya ‘pinjam’ dan pasang di Instagram saya, saya jadikan penutup untuk menggambarkan betapa indahnya relasi. Di bawah sebuah lengkung beton yang kokoh, tertulis kutipan Nelson Mandela: “The best weapon is to sit down and talk.”

Jadi, jika pilihan kita berbeda dan siapa pun yang nantinya terpilih, jangan sampai merusak relasi kita. Mari kita duduk bersama sambil ngeteh atau ngopi. Setuju?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here