Tiga, pernikahan mengajar kita untuk bersabar dan ikhlas
Agar dapat berjalan seirama, kita perlu menyesuaikan langkah kaki kita. Kadang kita mesti bersabar dengan berjalan lebih lambat. Kadang kita juga perlu menghampiri dan mengambil langkah lebih jauh untuk makin dekat dan tiba di titik yang sama dengan pasangan. Jika kita tak bersedia melakukannya, kita akan berjalan sendiri. Tak lagi berjumpa dengannya. Tak lagi bersama.
Jika perlu menjadi orang pertama yang mengalah untuk mendekati pasangan, maka mengapa tidak dilakukan? Kebersamaan membutuhkan pengorbanan, bukan?
Sebenarnya pernikahan tidak akan terasa membosankan ketika kita terus bertumbuh dan mengalami pemurnian. Jangan takut merasa terluka dan sakit. Sebab selalu ada harga untuk sebuah proses, bukan? Sebelum kita memetik buah yang manis bersama pasangan di sepanjang perjalanan pernikahan.
Hadiah sebuah pernikahan bukanlah perasaan bahagia, namun pertumbuhan bersama. Pertumbuhan diri, pengenalan terhadap pasangan, dan tentu saja pengenalan terhadap Pencipta Kehidupan yang merestui pernikahan kita.






