Kantor adalah tempat yang memberi pekerjaan tanpa henti dengan imbalan sesedikit mungkin, dan bisa sedikit dibanggakan. Oleh karena itu, jangan menguji harga diri di tempat kerja.”[2] Ini nasihat Gyun. Jika Anda menyombongkantempat kerja, ada istilah yang menarik dibuat oleh anak muda: budak korporat!

Tentu, bukan berarti tidak perlu bekerja. Jangan salah menarik kesimpulan. Bekerjalah dengan baik namun jangan menggantungkan impian Anda pada tempat kerja. Impian anda lebih besar dibanding dengan sebuah kantoran 10 lantai. Kantor Anda tidak dapat menampung mimpi itu. Maka itu, Anda perlu mendefinisikan ulang perbedaan antara tempat kerja, dan impian yang ingin tercapai dalam hidup.

Oleh karena kantor dan tuntutan pekerjaan, serta definisi impian yang diletakkan pada kantor kecil anda. Orang dan waktu penting anda sering kali terbuang. Anak kekurangan kasih sayang, isteri kekurangan belaian kasih, malah cenderung menjadi sasaran kemarahan anda karena masalah di tempat kerja dan banyak waktu baik anda terbuang. Orang yang workaholic selalu menyesali hal-hal ini di akhir hidup mereka.

Gyun memberi saran yang menarik. Agar Anda tidak akan menyesali hidup sebagai seorang kantoran. Maka “Lepaskan semua pikiran yang terkait dengan pekerjaan mulai dari jam pulang kantor hingga jam masuk kerja di esok hari.” Dilarang memikirkan pekerjaan kantor ketika kaki Anda memasuki pintu rumah. Kantor atau atasan tidak berhak menguasai diri Anda bahkan ketika anda pulang ke rumah dan bertemu dengan keluarga.

Hidup perlu dinikmati. Hidup yang tidak dinikmati, hanya akan meninggalkan perasaan mati. Segala sesuatu terasa melelahkan. Anda pantas bahagia. Tentu tidak hanya dengan cara kantor memberikan kebahagiaan kepada Anda melalui fasilitasnya. Semua itu hanya kebahagiaan yang semu. Harga diri Anda tidak ditentukan oleh nilai gaji bulanan.

Saran terakhir adalah bekerjalah secukupnya dan bersyukurlah secukupnya. Gyun mengatakan, “Kantor merupakan tempat yang menguras energi kita. Semakin lama waktu bekerja, semakin berat pekerjaan, dan semakin besar gaji maka semakin banyak pula kita mengeluarkan energi.” Bukan berarti tidak mau memberi yang terbaik. Pekerjaan terbaik adalah ketika kita mengusahakan yang baik dalam pekerjaan sesuai kemampuan. Namun semua harus dibagi secara sama rata. Terbaik untuk pekerjaan, terbaik untuk suami atau isteri, terbaik untuk anak-anak, untuk Tuhan dan untuk diri sendiri. Jujur saja. Anda tidak akan sanggup menjadi terbaik di segala lini ini. Maka, hal yang baik untuk diusahakan adalah dengan bekerja secukupnya, mengasihi secukupnya, menikmati hidup secukupnya.


[1] Yoon Hong Gyun, How to Respect Myself (Jakarta:  TransMedia Pustaka, 2020), 87.

[2] Yoon Hong Gyun, How to Respect Myself, 88.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here