Namun, logika ini terus beradu dengan perasaan. Logika mendorong saya untuk merelakan cinta, demi kebaikan kami semua. Sedangkan perasaan ini rindu mempertahankan cinta yang telah bersemi; diikuti dengan rasa bersalah yang menanti di sudut hati.

Rasa Bersalah dan Serba Salah

Memang cinta datang tiba-tiba, pada saat yang tak diduga; ia membawa kehangatan ke hati yang satu dan menggores luka pada hati yang lain. Merasakan indahnya cinta memang berjuta rasanya! Namun, saya tak memungkiri rasa bersalah itu hadir ketika membayangkan betapa pedih hatinya mengetahui hubungan saya dengan sang mantan.

Di balik rasa nyaman dengan mantannya, ada beban memikirkan dia. Di balik rasa bersalah kepada teman, ada cinta tak mau menyerah begitu saja. Perang ini begitu pelik, untuk mengakhiri dilema ini pastilah ada pihak yang “kalah”.

Belum selesai dengan diri, pikiran mulai dihantui dengan berbagai ketakutan. Apakah dia akan membenci saya? Akankah dia tidak mau lagi menjadi teman saya? Haruskah relasi dengan mantannya ini gugur sebelum punya kesempatan untuk berkembang?

Rumit. Serba salah. Harus memilih teman atau asmara?

Keputusan dan Risiko

Setiap keputusan memiliki risiko. Apapun yang kita pilih, selalu ada akibatnya yang mengikuti. Hubungan sebaik apapun, tetap rentan terhadap luka. Kedekatan membuka peluang untuk dikhianati, difitnah, dijadikan gosip, tidak dipercayai, dan risiko relasi lain.

Hal ini yang menyadarkan saya bahwa apapun keputusannya, saya harus siap menanggung risiko yang mungkin sudah saya prediksi dan bahkan yang tidak sempat terpikirkan. Memilih hubungan pertemanan memiliki risikonya sendiri. Memilih asmara dengan mantannya juga memiliki risiko yang mengikuti.

Jika semua akan indah pada waktunya, saya juga percaya bahwa semua akan memiliki risiko pada waktunya. Indahnya asmara tak dapat dipisahkan dari hati yang rentan terluka. Demikian pula masa lalu yang pilu tak meniadakan harapan kebahagiaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here