Kita bukan ruang kosong

Setelah saya sanggupi, tidak lama kemudian, seorang mahasiswi yang lain mengontak nomor WA saya. Saya kaget. Saya kenal dia. It’s such a small world! Karena saya bukan hanya mengenal dia tetapi juga  keluarganya, saya jadi lebih bisa memahaminya. Mengapa dia dikatakan toxic?

Mahasiswi ini dibesarkan dalam keluarga yang sangat keras. Demokrasi mati di keluarganya. Apa yang dia lakukan, inginkan, bahkan cita-citanya ternyata merupakan produk mamanya. Kuliahnya di jurusan yang sekarang ambil pun merupakan pilihan mamanya. Kokonya pun kuliah di jurusan yang mamanya tentukan. Papanya tidak kuasa mencegahnya karena kalah dominan dengan sang istri.

Begitulah. Karena tidak punya kesempatan bicara di rumah, mahasiswi ini menumpahkannya ke siapa saja yang mau membuka telinga baginya. Lalu, apakah racunnya pindah ke saya? Tidak juga! Saya menerapkan aturan, kapan dia bisa WA saya dan kapan bisa call saya. Karena kesibukan, saya bukan tipe  orang yang sebentar-sebentar buka hape, beberapa menit sekali update status atau stalking. Secara perlahan tanpi pasti, mahasiswi itu berubah. Sampai hari ini, dia tetap sahabat saya yang terbuka dan minta solusi saat masalah datang. Saat melakukan itu, dia tidak menimbulkan masalah baru bagi saya karena dia mengikuti rule of the game yang saya terapkan. 

Sahabat atau hanya kenalan saja?

Kembali ke obrolan saya dengan James Gwee, di saat pandemi seperti ini, sahabat kita jadi ‘menyusut’. Masih tetap ada sahabat—baik dekat maupun jauh secara domisili—yang menyempatkan diri mengontak saya dan menanyakan kabar. Pertanyaan yang sungguh tulus. Kita bisa merasakan mana pertanyaan yang basa-basi, mana yang ingin menjalin kembali persahabatan dan mana yang sungguh-sungguh tetap sahabat kita.

Di tengah sikon seperti itulah email dari Eshan Weeratunga nongol di mail box saya. “Hi guys

Trust this email finds you in good health! We should start a Whats App group and see how we can share about our lives. Let me know if you would be interested.

Blessings to you and the families!”

Mula-mula saya mengernyitkan dahi. Lupa-lupa ingat. Eshan…Eshan…Eshan Aha! Tiba-tiba saya ingat. Apalagi saat dia kirim foto. Langsung ingat. Dia pernah bersama-sama saya dalam suatu pelatihan kepemimpinan bersama puluhan negara lain. Dia seingat saya adalah pemuda Afrika yang ganteng dan atletis. “Kayak Black Panther, Pak,” ujar Yonatan anak saya yang ikut melihat fotonya.

Teman yang lama terhilang kini terhubung kembali. Medsos mempertemukan saya kembali dengan Eshan Waratunga dari Afrika. Medsos juga yang mempertemukan saya dengan Sally di Melbourne dan Sally mantan dosen saya yang kini menetap dengan suami dan anak-anak di Amerika Serikat. Apakah WAG yang dibentuk Eshan nantinya bisa mengubah kami dari sekadar kenalan menjadi sahabat? Waktu berbicara.

1 COMMENT

  1. wah.. ini pencerahan banget bagi saya. akhirnya saya tahu harus mengambil tindakan apa ketika saya dihadapkan dengan teman yang toxic lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here