Istri berwajah muram/glowing tergantung bagaimana perlakuan suaminya.
Apalagi kalau ada pendapat yang bilang semakin banyak jatah duit/transferan dari suami, istri semakin cetar bercahaya dan bersemangat dalam hidup.

Aku tidak setuju.
Walaupun ya, sebagian memang betul.
Suami yang penuh kasih, setia, dan bertanggung jawab pasti membuat istrinya bahagia lahir batin. Apalagi kalau secara finansial terjamin, sudah pasti surga dunia.

Tapi percayalah Ladies,

bahkan ketika uang ada kalian pun bisa tidak bahagia, kalau hatimu tidak bahagia dan tidak pernah merasa cukup.
Hari ini begitu banyak perempuan yang merasa tidak pernah cukup sampai perlu mengambil yang bukan jadi haknya.

Bukan juga aku tidak bersimpati pada kaum istri yang mengalami pengkhianatan, menderita dalam pengabaian suaminya, atau terjebak dalam kekerasan rumah tangga.
Justru aku mengajak kaum istri dan ibu untuk bangkit dari keterpurukan, menemukan jiwanya kembali,
sehingga badai hidup tidak menghancurkannya sampai remuk.


Aku adalah tim ibu-ibu yang percaya bahwa kebahagiaan seorang perempuan pada umumnya
dan istri/ibu pada khususnya adalah tidak tergantung pada siapapun atau pada apapun.


Pertama-tama, kita sendirilah yang bertanggung jawab atas kebahagiaan diri dan kecukupan batin kita.
Semua berawal dari diri kita: mau bahagia atau tidak?

Sebab kalau kita menggantungkannya pada seseorang/sesuatu, ketika dia/hal itu mengecewakan, kita akan hancur berkeping-keping.
Ketika pondasi diri kita kuat, jiwa kita penuh, pikiran kita terisi oleh hal-hal yang positif, maka ketika badai kehidupan dan masalah menghantam, kita akan jatuh
TAPI kemudian bangkit lagi!

Pilihlah jadi seorang perempuan, istri, ibu yang tahu tujuan hidupmu.
Tahu bahwa kamu berharga dan berhak untuk berbahagia.
Itu bukan tergantung pada seseorang, tempat, apalagi benda-benda mati.

Kalau belum tahu apa tujuan hidupmu, carilah.
Sehingga kamu tidak terlihat hidup tapi sebenarnya jiwamu kosong.

Siapa bilang perempuan kuat dan tegar tidak punya masalah?
Semua makhluk hidup punya tantangan dan medan perangnya sendiri-sendiri.
Tapi yang membedakan antara satu dengan yang lain adalah how she/he fights the battle.

Hmm, saya setuju sekali. Kebahagiaan adalah tanggung jawab pribadi. Lebih jauh lagi, kebahagiaan ibu sangat berdampak bagi kesejahteraan jiwa sebuah rumah tangga. Ternyata pilihan untuk tetap berbahagia sangat mulia. Luar biasa, bukan?

Wahai para ibu, mari putuskan untuk selalu berbahagia!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here