Masih Ingin Menikah?

Sekarang, pada usia 46, apakah kegalauan hati mengenai status single masih mengusik saya? Sudah tidak lagi. Tetapi, apakah kebutuhan atau perasaan untuk ingin mempunyai teman yang dapat mendampingi seumur hidup tetap muncul? Ya tentu. Namun itu bukan lagi suara dominan menghantui pikiran dan perasaan saya, yang membuat saya stagnan dan tidak bisa produktif.

Jika suara hati itu muncul, saya cukup dengan memberikan notifikasi kepadanya; “O ya, Cat. Kamu punya perasaan seperti itu ya.” Kemudian, saya kembali kepada aktivitas rutin. Saya memilih menggunakan energi dan pikiran saya untuk mengaktualkan potensi diri, berbagi dengan orang lain, mengejar impian-impian lain yang lebih mudah untuk direalisasikan ketimbang menenggelamkan diri pada perasaan dan pikiran yang tidak akan selesai. 

Ada fase dalam kehidupan di mana kebutuhan untuk memiliki pasangan hidup bersuara sangat keras bahkan mengusik. Bersikap realistik saja. Tidak usah menyangkalinya atau juga terobsesi dengannya. Upayakan cara agar dapat memenuhi kebutuhan itu, tetapi tidak sembrono, reaktif, dan impulsif dalam mengambil keputusan. Jika upaya masih belum berhasil, tidak perlu panik. Single atau menikah tidak menentukan kebahagiaan kita.

Jangan keliru dalam sudut pandang mengenai hal ini. Kepuasan hidup justru diperoleh dengan memberikan makna pada kehidupan yang sangat berharga, yang telah dianugerahkan Tuhan. Berkaryalah semaksimal mungkin. Kepuasan dan kebahagiaan akan datang dengan sendirinya. Jika Tuhan berkenan kita akan menikah, maka jalan akan terbuka. Jika belum, tidak berarti kita sedang berada pada jalur yang salah. 

Saya single. Tidak ada yang salah dengan saya. Saya puas dengan hidup ini karena makna yang saya taruh di dalamnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here