Ketiga, selain program pembelajaran terkesan kurang maksimal, penilaian terhadap anak pun rasanya kurang valid. Guru tidak melihat langsung proses belajar siswa. Bagaimana bisa memberikan penilaian yang tepat sesuai dengan perkembangan anak? Apakah hasil tugas-tugas yang dikumpulkan itu cukup reliable? Bagaimana dengan yang tidak mengumpulkan tugas sama sekali?

Sebagai guru, saya pun merasakan semua kesulitan yang menyebabkan pembelajaran online dirasa kurang efektif. Layanan yang bisa kami berikan dirasa kurang sepadan dengan mahalnya biaya uang sekolah yang harus dibayarkan orang tua murid.

Ngomong-ngomong soal biaya, bukankah nyatanya tidak banyak potongan uang sekolah yang bisa didapatkan?

Bagaimana dengan Cuti Sekolah?

Berikut ini beberapa pandangan saya sebagai guru.

Pertama, pihak sekolah manapun tidak berhak membatasi keputusan orang tua murid terkait pendidikan anak-anaknya. Bagaimanapun juga, orang tua adalah the prime educators, para pendidik utama anak-anak. Orang tua berhak menentukan di mana dan bagaimana anak-anak mereka akan dididik.

Namun, guru-guru dan sekolah yang baik pasti akan merancang sistem pembelajaran dan penilaian yang lebih efektif untuk tahun ajaran baru 2020/2021.

Jika orang tua murid memberikan dukungan dan mau bekerja sama dengan baik, maka pihak sekolah akan termotivasi untuk meningkatkan layanan mereka. Bisa jadi justru kualitas sekolah online di tahun ajaran baru ini akan sama baiknya dengan sekolah offline, bahkan jadi lebih bermutu.

Kedua, anak-anak berhak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas.

Hanya karena kita sebagai orang tua sedang mengalami krisis ekonomi, bukan berarti hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas layak dikorbankan.

Sejak TK sampai di bangku universitas, orang tua saya adalah “pelanggan tetap” yang setia mengajukan keringanan uang sekolah. Setiap tahun, bahkan setiap semester mereka dengan rajin akan mengumpulkan berbagai dokumen yang dibutuhkan untuk mengajukan keringanan uang sekolah. Semua syarat sekolah dan yayasan pasti mereka penuhi.

Melihat pergumulan finansial keluarga, seseorang pernah berkata kira-kira seperti ini pada orang tua saya, “Kenapa nggak sekolahkan saja anak-anak di sekolah gratisan?” Orang lain malah menyarankan agar adik saya putus kuliah.

Ada harga, ada rupa. Mau anak dididik di sekolah bagus tentu harus berani berjuang bayar lebih mahal. Termasuk bekerja lebih keras dan menurunkan gengsi dengan mengajukan keringanan uang sekolah setiap tahun.

Niat mereka yang luhur itu diberkati Tuhan. Walaupun tidak ketiban rejeki nomplok, bahkan harus mengalami PHK saat krisis moneter tahun 2008, baik adik maupun saya berhasil menyelesaikan sekolah dan kuliah di universitas bergengsi negeri ini. Nama almamater kami tidak abal-abal!

Ketiga, we are in this together! Pendidikan adalah kolaborasi antara pihak sekolah dan orang tua murid. Kita ada dalam tim yang sama. Pandemi seharusnya tidak memecah belah kedua pihak. Justru inilah saatnya kita bergandengan tangan memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak kita. Jika kita berjalan bersama, bukankah sekolah online akan lebih efektif dan worth it?

Bagaimana menurut Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here