Saran itu saya pegang dan lakukan. Saya menggali lebih dalam potensi yang Tuhan anugerahkan dalam diri saya. Salah satu contohnya, saya telah menerbitkan dua buah buku. Karena ingin belajar lebih banyak, maka saya ikut berbagai pelatihan dan menerima tantangan menulis. Akhirnya satu puisi saya masuk dalam buku ‘Surat Tentang Harapan yang Abadi untuk Ahok’. Ada pula sebuah artikel dalam buku ‘Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia’. Saya sekarang juga belajar untuk memasak dan membuat kue-kue. Target berikutnya adalah, saya ingin belajar menjahit dan belajar mengendarai mobil.”

Hidup sebagai single bisa membawa dampak bagi sekitar. Dan hal itulah yang mesti dikembangkan di masa-masa sendiri. Tantangan menjadi single tidak selamanya mudah untuk dihadapi. Oleh karena itu diperlukan komunitas yang tepat bagi para single untuk berkumpul supaya tetap kuat dalam menghadapi tantangan yang ada.

Tantangan menjadi single seringkali datang bukan dari kelompok/lingkaran luar. Tapi tantangan lebih berat justru lebih datang dari lingkaran dalam atau orang-orang terdekat.  Jika saran, kritik atau bahkan cemooh datang dari kelompok luar, para single bisa saja mengabaikan atau segera melupakannya.

Namun, jika itu datang dari orang-orang dekat, maka bisa jadi itu membawa beban tersendiri. Jadi, tolonglah para single. Mereka hanya butuh didengar dan didoakan, bukan untuk dihakimi. Jangan berikan solusi klasik tanpa aksi. Bertindaklah dengan pasti untuk mendukung para single bisa happy.

Appreciate being single because that’s when you grow the most. And with that growth, you come to know what you’re looking for. (Daniel Goddard)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here