Saya berkomitmen untuk tetap menabung hingga empat tahun berikutnya. Uang tabungan yang terkumpul ditambah dengan sedikit pinjaman bank, akhirnya cukup untuk digunakan membangun rumah impian saya. Sayangnya, pria yang saya nantikan belum juga memunculkan batang hidungnya.

Tidak hanya persiapan secara fisik yang saya lakukan. Saya juga memperlengkapi diri saya dengan membaca buku, konseling, dan mengikuti seminar dengan topik pernikahan dan mendidik anak. Saya belajar banyak. Wawasan saya tentang pernikahan dan anak semakin diperluas.

Terbesit di benak saya, apakah saya masih punya keinginan untuk menikah? I don’t have any idea or I don’t know for sure… Yang jelas, saya tetap menabung, namun kali ini bukan untuk keperluan biaya pernikahan lagi, melainkan untuk mengisi rumah dengan perabotan dan aksesoris ala Pinterest.

Mengapa tidak memanfaatkan jasa dukun saja?

Ada pula yang menyarankan, supaya saya bergabung dalam aplikasi dating online. Dalam keterpaksaan dan demi pembuktian diri bahwa saya bukan orang yang kuper, saya pun mencobanya. Hasilnya? Saya memang punya beberapa kenalan dari luar negeri. Namun apakah mudah untuk memutuskan menikah dengan mereka? Tentu saja tidak. Pertimbangannya justru lebih banyak dan lebih kompleks.

Yang paling ekstrim, pernah juga saya disuruh meminta bantuan dukun atau paranormal supaya mereka menerawang nasib perjodohan saya. Tapi kemungkinan besar, saya tidak akan pernah melakukannya. Mengapa?

Satu, tidak ada dukun yang gratis di zaman sekarang. Dukun juga butuh fulus untuk bersenang-senang. Daripada membayar biaya mahal untuk dukun, lebih baik saya beli handphone atau gawai baru. Itu jauh lebih bermanfaat untuk menemukan lebih banyak teman baru.

Dua, selalu ada harga (baca: tumbal) yang harus dibayar demi terwujudnya keinginan kita. Tanpa kita ketahui atau sadari, bisa jadi pasangan kita atau anak kita di masa depan akan menderita atau mati menjadi tumbal, sebagai konsekuensi pemenuhan keinginan kita.

Tiga, cinta yang dipaksakan pasti berakhir tidak baik. Frasa “Cinta Ditolak Dukun Bertindak” cukup populer di kalangan orang muda. Seorang pria yang tergila-gila pada perempuan karena hasil kerja dukun tanpa pernah tahu alasannya, maka dia akan bersedia menikah atau melakukan apapun. Nah, hubungan yang dipaksakan seperti itu apakah bisa berakhir “Happily Ever After”?

Dari lubuk hati yang paling dalam saya tetap ingin menikah. Namun suatu kali, saya dipertemukan dengan seorang single yang jauh lebih dewasa dibandingkan dengan diri saya. Beliau menyarankan, “Punya keinginan menikah adalah sesuatu yang wajar. Namun, jangan jadikan itu tujuan hidupmu. Jika kamu terlalu memfokuskan hidupmu untuk menikah, kamu akan kehilangan hal lain yang jauh lebih berharga. Kamu punya potensi yang besar. Kembangkan semua itu dengan maksimal hingga kamu berhasil. Di waktu yang tepat, Tuhan pasti akan mempertemukanmu dengan pria yang tepat.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here