Sejujurnya, saya sering merasa kebingungan bagaimana harus merespon setiap pernyataan/statement yang dilontarkan berkaitan dengan ke-single-an ini. Saya tidak mengerti karena tidak tahu pasti solusi bagaimana supaya cepat menemukan pacar, menikah, dan hidup berbahagia selamanya.

Saya dulu berpikir, orangtua saya, khususnya ibu, adalah pribadi cukup memegang prinsip dan tidak mudah terpengaruh oleh apa kata orang. Namun, ketika usia saya beranjak mendekati 40 tahun dan belum menikah, ibu mulai merasa terlalu khawatir, yang pastinya dilatarbelakangi dan disebabkan oleh apa kata orang di sekitar, atau bahkan mungkin dari tayangan infotainment Indonesia yang ditonton setiap harinya.

Menjalani kehidupan sebagai single hingga di usia yang sekarang ini tidaklah selalu mudah. Salah satu penyebabnya adalah tuduhan keji yang menyudutkan, yang sampai ke telinga saya. Mulai dari terlalu pilih-pilih (padahal kalau beli baju saja dipilih ukuran yang sesuai dengan badan kita), terlalu workaholic (Lha, mau ngapain juga pulang kerja terlalu sore jika saya bisa produktif di kantor), terlalu high expectation (padahal tidak terbukti), kurang bergaul (padahal komunitas saya juga tidak sedikit), tidak mau membuka diri dan yang tidak ada habisnya. Duh, Gusti … Betapa sedihnya.

Pernah juga saya bertanya-tanya, apakah saya yang belum siap untuk menikah atau berkomitmen? Bisa jadi jawabannya ‘MUNGKIN’. Apakah saya tidak mempersiapkan diri untuk memasuki kehidupan pernikahan? Jawabannya, ‘NGGA juga.’

Tetap mempersiapkan diri untuk pernikahan

Setelah bekerja selama tiga tahun, saya sudah menyisihkan sebagian gaji saya untuk biaya pernikahan, padahal saya belum memiliki calon suami. Tidak seperti kebanyakan perempuan yang ingin menikah di usia 25 tahun, saya justru ingin menikah di usia 32 tahun.  Saya berpikir, usia 32 tahun adalah usia yang sudah benar-benar siap secara fisik, psikis, dan spiritual untuk memasuki dunia pernikahan dengan kompleksitas masalah yang ada di dalamnya.

Hingga di usia 32 tahun, tidak ada satupun pria yang bersedia berkomitmen. Uang tabungan sudah terkumpul, akhirnya diputuskan untuk dibelikan sebidang tanah. Saya masih tetap berharap, jika ada seorang pria yang meminang saya, maka kami tinggal membangun rumah di atas sebidang tanah tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here