Pada intinya, rasis adalah sebuah bentuk kejahatan. Ia lahir dari suatu penolakan perbedaan. Merasa diri paling baik (superior), dan bahkan memiliki hak untuk meniadakan eksistensi orang lain baik secara fisik maupun verbal.

Exclusion

Miroslav Volf, seorang teolog pemerhati sosial menuliskan sebuah buku berjudul “Exclusion and Embrace”. Di sana ia menjelaskan bahwa melakukan pembedaan (diferensiasi) adalah sesuatu kewajaran karena kita diperlengkapi dengan kemampuan membedakan. Lagi pula realitas kehidupan kita terdiri dari banyak perbedaan. Maka itu kita perlu membedakan. Namun, diferensiasi tetap menyadari bahwa di tengah perbedaan, semua orang saling terikat (bonding) atau saling membutuhkan. Namun, yang salah dari diferensiasi adalah exclusion atau perenggutan. Exclusion merupakan sebuah kejahatan karena di sana ada kekerasan, pengusiran, pengabaian, penaklukan. Exclusion ini terjadi paling nyata di dalam peristiwa pembersihan etnis.

Di dalam bagian Exclusion, Volf menjelaskan banyak bentuk dari tindakan eksklusi. Ada empat macamnya: 1.) Exclusion elimination: Sebuah bentuk peniadaan orang lain. Sama seperti tindakan polisi kulit putih terhadap Floyd. 2.) Exclusion assimilation: Sebuah bentuk membuat orang lain harus menjadi seperti yang kita inginkan. 3.) Exclusion Domination: Sebuah bentuk tindakan mendominasi orang lain karena merasa superior. 4.) Exclusion Abandontment: Sebuah bentuk pengabaian dan tidak peduli terhadap orang lain yang membutuhkan.

Volf di dalam bukunya mengatakan, “Saya menolak eksklusi karena para nabi, para penginjil, dan para rasul mengatakan bahwa ini cara yang salah dalam memperlakukan orang lain.” Perbedaan seharusnya diterima karena semakin beragam kita akan semakin kaya dan indah. Inilah yang ia singkat dengan sebutan “Embrace” (merengkuh). Perbedaan harusnya membuat kita saling merengkuh dan menerima. Hal ini seharusnya menjadi kesadaran dari setiap orang bahwa mengasihi lebih indah dari pada menyakiti.

Peristiwa yang terjadi di Amerika Serikat bukan berarti tidak akan terjadi di Indonesia. Negara yang dibangun atas kepusparagaman ini justru lebih tinggi memiliki risiko perpecahan akibat Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA).  Mengasihi dan menghargai perlu menjadi kesadaran bagi setiap orang di dalam memperlakukan semua orang secara sama. Berbeda-beda tetapi satu jua adalah tekad yang terus harus dihidupi bersama. Apa pun itu, tindakan eksklusi karena rasis adalah sebuah kejahatan. Satu hal yang juga penting adalah: membiarkan yang jahat terjadi dan tidak membuat apa-apa juga merupakan sebuah kejahatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here