Pengalaman di Ruang Isolasi

Berada dalam ruang isolasi adalah hal yang tidak terlalu buruk, bahkan bisa menjadi menyenangkan karena perhatian dan kepedulian para dokter dan perawat yang merawat saya. Semua yang saya butuhkan, seperti obat ketika saya mengalami vertigo atau sakit perut sekalipun, mereka sediakan. Oleh karena itu, saya sungguh mengapresiasi pekerjaan mereka. 

Tidak mudah bagi dokter dan perawat dalam menjalankan tugasnya. Untuk masuk ke ruang isolasi, mereka harus menggunakan APD (Alat Pelindung Diri), yang tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Berada di dalam APD pun, ada kesulitan yang harus mereka hadapi. Salah satunya adalah ketika berkeringat, kaca mata pelindung penuh dengan uap sehingga mereka kesulitan untuk melihat. Belum lagi panasnya saat mengenakan APD serta beberapa kesulitan lainnya. Namun, perhatian mereka tidak berkurang dengan selalu bertanya: “Ada keluhan, Pak?” Sungguh pertanyaan yang bersifat template (klise)namun terasa perhatiannya. 

Di dalam ruang isolasi, saya tidak berjuang sendiri. Saya berjuang dengan para dokter, perawat, bahkan anggota jemaat GPIB Ebenhaezer yang ditetapkan sebagai ODP. Kami berjuang bersama. Bagi setiap orang yang masih berjuang dalam ruang isolasi, atau juga berjuang untuk tetap tinggal diam di rumah, saya yakin kekhawatiran tetap ada dalam diri mereka semua. Karena saya mendengar cerita, ada yang masih mengalami sulit tidur (insomnia) karena memikirkan virus ini.

Percayalah, Covid-19 ini tidak ada apa-apanya dibandingkan berbagai jenis virus yang ada di sekitar kita. Jika kita dalam kondisi yang baik, walaupun positif sekalipun, kita tetap bisa merawat diri dengan mengisolasi diri di rumah. Namun, yang perlu menjadi perhatian adalah hindari kontak, terutama dengan orang tua, anak kecil, dan kelompok orang yang rentan karena penyakit serius. Mereka harus terus dijaga agar tidak terinfeksi Covid-19.

Satu Hal Penting yang Saya Pelajari

Saya bersyukur pada Tuhan pada tanggal 1 April 2020 hasil pemeriksaan yang dilakukan kembali menunjukkan hasil: negatif. Saya sudah sembuh dan pulih dari Covid-19.  Terima kasih dokter, perawat dan anggota jemaat yang terus mendukung proses penyembuhan.

Ada satu hal penting yang saya pelajari: bukan berarti ketika mereka terinfeksi Covid-19 lalu rentan menghadapi kematian. Itu salah. Orang yang punya sakit serius, meskipun dalam kondisi yang prima pun, suatu kali dapat merasakan sakit yang luar biasa karena penyakit tersebut. Terlebih ketika kondisi tidak prima, dampaknya bisa lebih buruk. Yang membahayakan adalah penyebaran virus ini yang begitu cepat dari satu orang ke orang lain. Di tambah lagi dengan pelbagai berita kurang jelas kebenarannya yang bisa menambah kecemasan. Bukankah kecemasan itu memengaruhi daya tahan tubuh kita? Jadi, mari kita mengoptimalkan daya tahan tubuh kita dengan mengelola kekuatiran itu sendiri.  

Jangan kalah terhadap kekuatiran, tetapi kalahkan kekuatiran dengan semangat dan sukacita.

Palangkaraya, 2 April 2020

Vikaris Ergon Pranata Pieters (GPIB Ebenhaezer)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here