Hidup dengan wanita yang extreme negative thinking seperti Novi, ibarat hidup dengan seorang jaksa. Kesalahan kecil akan dibesar-besarkan, atau bahkan dicari-cari kesalahan sekalipun saya tidak bersalah. Jadi Pak Xavier tahu, betapa suci dan salehnya saya harus hidup dengan istri seperti ini.

Setiap hari saya menyisihkan waktu luang dan tenaga untuk membantunya membuat wedding cake dan melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci dan menjemur pakaian, setrika, menyapu serta mengepel lantai. Saya sendiri memastikan hidup saya beres di hadapan Tuhan, agar saya sendiri tidak jatuh dalam pencobaan.    

Saya menduga keras, Novi memanfaatkan komitmen iman saya. Dia tahu saya takut melanggar perintah Tuhan. Maka dia bebas memaki saya, karena tahu saya tidak akan balas memaki. Dia bebas melakukan  KDRT, karena saya tidak akan berbuat kasar kepadanya. Dia bebas mengatai saya karena tahu saya akan mengampuni dia. Dia bebas meluapkan emosi dengan liar, karena tahu saya pasti akan tetap mengasihinya no matter what.  Setelah marah-marah, dia juga tidak perlu repot-repot minta maaf, karena dia tahu suaminya pasti akan mengajaknya berdamai. Bukankah sesuai keyakinan iman, saya diperintahkan untuk berdamai dengan semua orang?  

Segala kesabaran saya, tidak mendatangkan perubahan yang diharapkan.  Walaupun tiap hari saya lakukan tindakan extra mile untuk melayani dia, sekali pun tidak pernah berucap terima kasih, apalagi memuji. She never feels guilty, doesn’t bother to say sorry.  Sama sekali tidak bisa diingatkan dan dinasihati.

(2) Langkah konsultasi ke konselor juga tidak sukses. Setelah pertemuan dengan Pak Xavier sekitar 12 tahun lalu, dia marah dan menuduh saya menyebarkan aibnya ke orang lain. Sejak itu Novi menolak keras tiap kali saya ajak konseling. Ironisnya, kami berdua aktif di lembaga yang melayani pasutri. Saya beberapa kali konseling ke pemimpin kami di sana. Kami mendapatkan saran-saran yang normatif. Setelah semua saran itu, tidak efektif, pemimpin kami berinisiatif menelpon Novi untuk mengajak konseling bersama saya.  Novi terang-terangan menolak dan berkata, “Wong tidak ada masalah, untuk apa konseling?”   Nah….  Bagaimana mungkin konseling bisa sukses, jika hanya saya saja yang hadir? Novi menghargai egonya lebih tinggi dari pernikahannya.   

(3)  Saya beberapa kali minta Tuhan untuk mengakhiri pernikahan saya, dengan satu-satunya cara yang Alkitabiah, yakni dengan kematian. Saya tidak mampu memimpin wanita yang tidak mau dipimpin ini.  Jadi sebaiknya, cabut saja nyawa saya, supaya pernikahan ini secepatnya berakhir. Nabi Elia, punya permintaan yang sama, ketika ia tertekan. Lah…. siapa saya dibanding Nabi Elia?

2 COMMENTS

  1. Wah ternyata ada ya pria seperti ini. Selama ini saya bahkan tidak pernah tau ada pria yang hanya 25% nya dari pria dalam artikel ini.
    Sedangkan posisi saya sekarang saya anggap mirip dengan artikel tentang seorang istri yang berdomisili di singapore.
    Beberapa kali saya memendam keinginan untuk minta kontak ibu yang tinggal di singapore tersebut. Barangkali bisa sharing tips dan trick untuk hidup sehari hari.
    Hari ini saya benar2 kaget kalo ternyata ada pria yang seperti ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here