Novi bukan wanita jahat. Untuk ukuran umnya, dia termasuk istri yang tidak banyak menuntut. Dia hidup berdasarkan norma-norma universal yang berlaku di masyarakat. Asalkan berbuat baik, tidak menyeleweng, dan tidak menyakiti orang lain, Novi merasa sudah memenuhi syarat orang beragama. 

Problem baru meletus, ketika ada perbedaan pendapat di antara kami. Saya menggunakan standar kebenaran iman, dia menggunakan standar dia sendiri. Ketika dia jelas bersalah, saya akan bereaksi mengingatkan, sayangnya seringkali berakhir dengan pertengkaran.  Mayoritas penyebab konflik selama pernikahan kami adalah ketika saya berusaha menunjukkan kesalahannya atau menegurnya. Intinya, selama saya selalu “Yes Ma’am” atau menyetujui semua tindakannya serta membenarkan segala perbuatannya,  maka rumah kami akan aman dan damai.  

Sejak mengetahui hal itu, apakah ada niat untuk menceraikannya?

Tantangan untuk bercerai sudah berkali-kali dilontarkan oleh Novi. Tapi belum pernah terucap dari mulut saya. Apakah saya takut?  Ya. Saya takut mempermalukan Allah. Saya takut menghancurkan masa depan putra putri saya.  

Apakah Anda bertahan karena agama yang Anda anut tidak mengizinkan bercerai? Langkah praktis apa yang Anda lakukan?

Menjalani hidup pernikahan yang tidak seimbang adalah penderitaan berat.  Berhubung sudah berkomitmen di depan altar, baik maupun buruk tetap harus dijalani dan janji haruslah ditepati.  Bayangkan jika istri dengan usia pernikahan baru satu tahun tiba-tiba mengalami lumpuh atau stroke.  Itu adalah risiko yang wajib ditanggung suami. Suami harus tetap mengasihi, bersedia merawat, dan menanggung biaya pengobatan istrinya. Kondisi imajiner itu yang saya terapkan dalam hidup saya. Saya anggap Novi menderita stroke atau kelumpuhan rohani. Fisiknya normal tapi rohaninya mati dan tidak bertumbuh.  Dia tidak merasa perlu berdoa atau mendekatkan relasi spiritual dengan Tuhan.  

Secara teoretis ada tiga langkah yang saya sudah dan sedang saya jalani.  Langkah-langkah ini saya rangkum dari berbagai sumber yang saya gali selama tahun-tahun pernikahan yang menyedihkan. Menuliskannya mudah saja, tapi menjalaninya seperti di tepian api neraka. Tiga langkah saya sudah dan sedang saya jalani: tetap melakukan tugas sebagai suami, minta bantuan konselor dan sungguh berserah pada Tuhan.    

Langkah atau usaha apa saja yang sudah Anda kerjakan agar istri berubah sifatnya? Apakah berhasil? Mengapa gagal?

Saya coba jabarkan  tiga poin di atas dengan kondisi nyata, sebagai berikut:  

(1) Dengan masih bersatunya Novi dan saya hingga kini, tentu Pak Xavier sudah punya gambaran, betapa beratnya ujian kesabaran yang saya jalani selama ini.  Godaan untuk berkata “Ya” , beberapa kali sudah di ujung lidah  saat saya ditantang bercerai.  Bersyukurnya, bayang-bayang wajah kedua anak saya, selalu jadi rem untuk mengatupkan mulut saya. 

Normalnya, ancaman cerai akan terlontar dalam kasus-kasus berat, misalnya: amoral, selingkuh, kebiasaan judi, narkoba, penghinaan, KDRT dan sebagainya. Tapi hal-hal tersebut tidak ada di dalam rumah tangga saya. Novi mengancam bercerai, hanya karena berbeda pendapat atau marah karena terbukti bersalah.  Novi menunjukkan begitu murahnya dia menilai kesakralan pernikahannya.

2 COMMENTS

  1. Wah ternyata ada ya pria seperti ini. Selama ini saya bahkan tidak pernah tau ada pria yang hanya 25% nya dari pria dalam artikel ini.
    Sedangkan posisi saya sekarang saya anggap mirip dengan artikel tentang seorang istri yang berdomisili di singapore.
    Beberapa kali saya memendam keinginan untuk minta kontak ibu yang tinggal di singapore tersebut. Barangkali bisa sharing tips dan trick untuk hidup sehari hari.
    Hari ini saya benar2 kaget kalo ternyata ada pria yang seperti ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here