Kapan Anda sadar bahwa pilihan Anda ternyata tidak seindah impian?

Setelah menikah barulah kami tinggal bersama. Selapis demi selapis topeng mulai terbuka. Sepuluh tahun masa pacaran dengan wanita introvert tidak membuat saya tahu sedalam-dalamnya tentang tabiat Novi yang sebenarnya. Bulan-bulan pertama pernikahan, ada saja hal baru dari sifat Novi yang membuat saya ternganga. Tapi kasih menutupi segala sesuatu, bukan? 

Setiap kali saya ajak doa bersama, hampir selalu dia menolak dan minta saya yang pimpin doa. Buku RH di samping ranjang, tidak pernah dia sentuh. Memutar lagu-lagu rohani, selalu inisiatif berasal dari saya. Saya mulai heran, kok, gak pernah baca Kitab Suci? Meskipun satu per satu sifat non-Kristiani mulai muncul, di benak saya selalu ada excuse untuk Novi. Misalnya antara lain:  

  • Novi tidak pernah menyanyikan lagu rohani, alasannya karena sejak kecil memang tidak bisa menyanyi dan suaranya fals.    
  • Novi tidak rajin saat teduh, alasan yang mungkin adalah dia capek atau sedang tidak mood.
  • Novi tidak lagi mengajar sekolah minggu,  karena dia belum nyaman di gereja yang baru
  • Novi jadi pemarah dan semau gue, bisa jadi karena dia tertekan tinggal di rumah mertua.

Setiap kali Novi melakukan sesuatu yang mengecewakan, saya selalu berbaik sangka dan optimis bahwa hal itu hanyalah temporer dan akan hilang dengan berjalannya waktu. Ternyata saya salah.  

Perubahan sikapnya sebelum dan setelah menikah, kontras sekali. Selama pacaran, Novi masih sering mengucapkan “terima kasih” dan “maaf”.  Entah sejak tahun ke berapa pernikahan, kedua kata itu sudah hilang dari kosakatanya terhadap saya. Sebelum menikah, dia selalu menyiapkan sesuatu untuk ulang tahun saya.

Setelah menikah, hanya di tahun pertama saja dia memberikan saya hadiah. Dua puluh empat tahun berikutnya … sunyi sepi. Bahkan sekadar kalimat  “Selamat Ulang Tahun” kepada saya pun, sudah puluhan tahun, tidak pernah terucap untuk saya.

Bagaimana dengan wedding anniversary kami? Hanya di first anniversary Novi menyiapkan kartu untuk saya. Tahun berikutnya dan hingga hari ini, Novi tidak pernah berbuat apa-apa di hari wedding anniversary kami. Jangankan kado atau kartu, sekelumit kalimat “Happy Anniversary” tidak pernah terucap dari bibirnya. 

Mungkin Pak Xavier bertanya, “Lha sikap saya sendiri bagaimana di hari-hari khusus seperti itu?”   Saya senantiasa mengistimewakan HUT Novi dan HUT pernikahan kami. Tidak pernah saya melewatkan satu kali pun. Selama 24 tahun pernikahan, untuk mengenang di kedua hari istimewa itu, setiap tahun saya menyiapkan kado, makanan, special event, liburan atau kejutan manis lainnya. Saya ingat, hanya satu kali selama peringatan HUT pernikahan kami, saya “sekadar”  memberikan kartu anniversary kepada Novi, tanpa tanpa disertai hadiah lain.

2 COMMENTS

  1. Wah ternyata ada ya pria seperti ini. Selama ini saya bahkan tidak pernah tau ada pria yang hanya 25% nya dari pria dalam artikel ini.
    Sedangkan posisi saya sekarang saya anggap mirip dengan artikel tentang seorang istri yang berdomisili di singapore.
    Beberapa kali saya memendam keinginan untuk minta kontak ibu yang tinggal di singapore tersebut. Barangkali bisa sharing tips dan trick untuk hidup sehari hari.
    Hari ini saya benar2 kaget kalo ternyata ada pria yang seperti ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here