Saat itulah saya seperti tertampar! Harga diri dan kebanggaan boleh saja kita titipkan pada lembar ijazah, prestasi, bahkan pencapaian profesi. Itu tentu bukan hal yang salah!

Tetapi kebanggaan dan kepuasan diri juga bisa kita temui lewat berkat ilahi yang sering kali kita anggap biasa. Suami yang bertanggungjawab dan anak-anak yang manis tak kalah berharga dibanding penghargaan dari orang lain!

Saya menggendong si sulung dan memindahkannya ke tempat tidur. Dia tak membuka mata tetapi berujar pelan, “Thank you, Mama.” Si bungsu juga masih terlelap, tetapi membuka mata lebar ketika saya mengangkatnya dari carseat. Dia tersenyum lebar lalu makin merapat manja dalam gendongan. Ah.. semua lelah dan pergumulan selama ini seperti terjawab lunas, tak ada lagi pertanyaan tersisa untuk saat itu.

Sisa pertanyaan itu saya simpan dulu untuk nanti. Pertanyaan seperti, “Kapan akan mulai bekerja lagi? Masih ingin studi lanjut? Tidak sayangkah kalau tidak berkarya dan membagikan ilmu?” Nanti. Semua ada waktunya. Untuk saat ini, saya berpuas diri dengan rahmat-Nya yang tak terbeli dengan uang dan dengan sukacita bertugas setiap hari. Lagipula, suami sudah mengirim uang untuk belanja bulanan dan selalu ada budget untuk boba kekinian.

“Karena setiap perempuan itu multiperan, saya bisa menjadi ibu, menjadi istri, menjadi tetangga, menjadi jurnalis.” -Najwa Shihab

baca juga :

Stres Ibu Rumah Tangga? Saya juga Mengalaminya, Ma. Saya Tahu, Rasanya Seperti Ingin Meledak Saja!

Meski Tidak Sempurna, Menjadi Ibu adalah Pekerjaan Sepanjang Usia yang Teramat Istimewa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here