Sebagai pribadi yang pernah mandiri dan tak pernah minta uang pada suami. Di bulan-bulan pertama, saya benar-benar merasa canggung! Setiap kali mengajukan permintaan, saya harus menata pikiran membuat laporan singkat tujuan penggunaan uang ini. Padahal suami tak pernah bertanya, juga tak pernah menunjukkan sikap negatif setiap kali mendengar permintaan saya. Saya seperti kembali ke masa remaja dulu yang harus mempertanggungjawabkan pengeluaran bulanan pada orangtua; seperti kembali ke masa di mana kemandirian itu bukanlah sesuatu yang bebas saya nikmati. Canggung, malu dan seharusnya sanggup tetapi seperti tak punya kemampuan.

Harga Diri!

Setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan saya bergumul dengan rasa ini, akhirnya saya berhenti sejenak dan berusaha memahami diri. Bersahabat dengan rasa malu bercampur canggung ini membawa saya pada sebuah pencerahan:

Ternyata masalah sebenarnya bukanlah uang tetapi HARGA DIRI!

Pencerahan itu datang di sebuah siang yang cerah. Suami ada di kantor, si sulung ada di sekolah, si bungsu sedang tidur, dan saya sedang sibuk mencari beberapa dokumen yang suami butuhkan untuk pengurusan beberapa surat penting di kantor. Saya menemukan (kembali) ijazah, transkrip nilai, dan sebuah piagam penghargaan yang saya peroleh saat lulus kuliah. Tak terasa mata basah dan air mata menetes di pipi. Saya versi SAHM adalah sebuah kegagalan dibanding saya versi ijazah dan piagam itu. Saya sungguh merasa tidak berguna! Benarlah kata orang, apa gunanya berjuang kuliah setengah mati di luar negeri kalau pada akhirnya semua ilmu itu harus tergeletak tak berguna di sudut. Hidup saya sekarang seperti tak punya makna.

Rengekan si bungsu membawa saya kembali ke realita. Saya menyeka pipi yang basah, kemudian segera pergi menjemput si sulung dari sekolah. Sepanjang perjalanan saya masih menyesali diri sebagai seorang yang telah gagal. Melihat si sulung keluar dari kelas dengan senyum lebar juga tidak menghibur hati yang hancur ini. Hingga tiba kembali di rumah, saya mendapati dua anak yang tertidur pulas; di sulung meringkuk nyaman di bangku sebelah dan si bungsu tidur pulas di carseat-nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here