Saat pekerjaan saya menuntut saya pindah dari satu kota ke kota lain dari satu negara ke negara lain, isteri saya bisa meng-handle urusan rumah tangga dengan baik, padahal saat itu anak-anak kami masih kecil dan dia pun masih bekerja di rumah sakit. Seperti Margie, saya punya tante yang ikut menolong kami menjaga si kecil, meskipun ada babysitter dan PRT.

Bahkan pada saat libur sekolah, my queen dengan gagah perkasa menyusul saya ke Australia tanpa pendamping. Menjelang Natal ini, saat saya masih di Kuala Lumpur, papa mertua saya sakit dan akhirnya dipanggil Tuhan. Istri sama lebih dulu pulang ke kampung halamannya bersama si sulung sementara si bungsu sendirian di rumah karena sedang ujian.

Begitu pesawat mendarat di bandara, saya langsung meluncur pakai jalan darat ke kampung halaman istri saya. Saya tiba jam 4 subuh. Istri saya menyambut saya dengan mata mengantuk dan wajah kuyu. Meskipun tanpa kata-kata, saya tahu dia begitu senang saya bisa mengejar pesawat untuk balik ke tanah air. Pakaian saya pun sudah disiapkan dari rumah karena semua isi koper saya pakaian kotor semua. Saya belum sempat me-laundry di hotel tempat saya menginap di KL.

Last but not least, saya senang dengan kisah happy ending yang Margie tulis. Dia akhirnya menyadari bahwa jerih lelahnya tidak sia-sia. Senyuman si kecil membayar semua kelelahannya sebagai stay-at-home mom. Seperti suami Margie, saya pun bangga memiliki Fransiska Xaviera Susana!

Kepada semua stay-at-home mom, saya lebih suka memanggil kalian semua “Professional Mom!” Kalian bukan HANYA ibu rumah tangga. Kalian ibu rumah tangga yang LUAR BIASA!

Kepada para suami, hargai istri Anda yang bekerja sangat profesional di rumah!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here