Jadi, saya tidak serta merta melarangnya bekerja dan mengabdi di masyarakat sesuai keahliannya. Namun, dengan berjalannya waktu, dan kami harus berpindah tempat, dia memilih untuk resign dan menjadi ibu rumah tangga. Apakah benar-benar pensiun? Tidak! Dia membantu di sebuah klinik kecil untuk melayani masyarakat sekitar. Win win solution. Ilmunya tidak menguap begitu saja, tetapi masih ada waktu untuk di rumah. Jika tidak, dia bisa saja memberi obat kepada orang lain supaya sehat, tetapi suami dan anak-anak sekarat.

Kedua, masalah duit

Margie mengaku, sebenarnya bukan masalah duit, tetapi HARGA DIRI. Meskipun kepada sami sendiri yang nota bene adalah belahan jiwanya, sahabat saya ini merasa ewuh pakewuh (Jawa: segan, sungkan) untuk meminta uang kepada suaminya. Saya sangat memahami, apalagi orang sekelas Margie yang biasa mandiri. Ibu rumah tangga yang satu ini tegas. Bagi yang belum kenal, coba kenalan deh, pasti jadi cerdas. She’s so smart! Kaya Fella, Bu Yenny dan Bu Wali.

Saya punya jalan keluar untuk istri saya. Sederhana saja. Saya serahkan ATM saya kepadanya. Jujur, saya jarang sekali mengambil  uang di ATM. Boleh dibilang hampir tidak pernah. Apalagi di zaman now, banyak aplikasi e-Money. Kalau tagihan besar, pakai kartu kredit. Saya pun memberinya kartu tambahan yang bisa dia pakai. Apalagi istri dan anak-anak tidak selalu pergi bareng saya, di luar negeri sekalipun. Mereka bisa di Singapura sementara saya di Australia.

Ketiga, masalah day to day work

Saya percaya, Margie pasti sanggup. Kebetulan kami sama-sama punya dua anak. Bedanya, anak saya sudah besar—dalam arti yang sebenarnya, badannya juga gedhe. Isteri saya, saya akui, hebat sekali. She’s a real wonder woman for me.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here