1. Selalu sadar, menikah untuk apa

Menikah itu sulit. Hidup jadi tak lagi untuk diri sendiri. Ada pasangan, ada mertua, ada keluarga. Semua berbeda latar, berbeda sifat dan karakter.

Hidup pernikahan sangat memerlukan kedewasaan dalam mencintai dan berpikir.

Saat melangkah untuk menikah, kita perlu tahu apa alasan utama untuk menikah.

Harusnya jangan hanya karena usia. Jangan juga hanya karena cinta. Sayangnya, banyak yang menikah karena cinta, malah terlalu cinta. Sampai tergila-gila. Dikira hidup berdua saja, kamu dan saya, membuat dunia lebih berwarna. Nyatanya, semua itu hanya ilusi karena akhirnya tak sesuai dengan realita.

Saran saya, menikahlah saat sudah siap mental.

Kenyataan bahwa kita tak akan lagi hanya menjadi dua, tetapi tiga, empat, lima dan mungkin lebih banyak lagi, memerlukan tanggung jawab dan visi yang jelas saat dijalani.

Baca Juga: Mengapa Cinta adalah Alasan yang Keliru dan Apa Alasan yang Tepat untuk Menikah, Menurut Pakar Psikologi

2. Tetap aktif

Untuk tetap waras kita perlu aktif.

Itu adalah saran dari website parenting pemerintah Australia, negara tempat saya bermukim saat ini.

Saya rasa ada benarnya. Istri dan ibu yang aktif lebih besar kemungkinannya terhindar dari baby blues syndrome atau bahkan depresi.

Supaya tidak selalu merasa berjuang sendiri, kesepian sembari berkutat dengan popok, pampers, korset, dan teman-temannya, cobalah keluar rumah dan mencari aktivitas lain.

Oh ya, ibu saya dulu aktif jadi pemusik di gereja sambil jualan macam-macam ke teman-teman dan tetangga. Mungkin itu juga bisa jadi ide yang menarik untuk ditiru.

Baca Juga: Stres Ibu Rumah Tangga? Saya juga Mengalaminya, Ma. Saya Tahu, Rasanya Seperti Ingin Meledak Saja!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here