Soulmate: Perasaan atau Logika

Konsep soulmate ini beranggapan ada satu orang di luar sana yang diciptakan untuk menjadi pasangan hidup kita dan oleh karena itu pasti akan cocok dengan kita.

Sekalipun terdengar baik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Antara lain, sarana apakah yang dipakai untuk menilai seseorang yang dijumpai itu soulmate atau bukan? Lalu, apakah konsep ini membuat kita cenderung mempunyai harapan yang tidak realistis mengenai pernikahan?

Mereka yang percaya akan adanya soulmate tentu harus mempunyai alat yang dipakai untuk menentukan apakah orang yang mereka sukai itu soulmate atau tidak. Kalau sarana yang dipakai untuk menilai dapat dipertangungjawabkan, misalnya melalui pertimbangan rasional, risiko untuk salah menilai dapat dikurangi. 

Sayangnya, sebagian besar orang yang percaya pada konsep ini lebih banyak menggunakan perasaan untuk menilai. Padahal, 

perasaan bukanlah alat ukur yang bisa dipercaya. 

Hal ini khususnya terjadi pada mereka yang mempunyai pola attachment yang tidak sehat, latar belakang keluarga yang bermasalah, atau pengalaman traumatis yang lain.

Baca Juga: Mengapa Kita Bisa Mencintai Orang yang Salah dan Terjebak di Hubungan yang Salah? Ini Penjelasan Psikologisnya

Selain itu, mereka yang percaya pada konsep soulmate mengharapkan pernikahan mereka akan lancar. Mereka pikir, karena mereka sudah menikah dengan orang yang memang diciptakan untuk mereka, sudah seharusnya pernikahan mereka berjalan mulus. 

Padahal, 

tidak ada pernikahan yang tanpa masalah. 

Dua orang yang berasal dari keluarga berbeda, jenis kelamin yang berbeda, kepribadian yang tidak sama, dan kebiasaan yang berbeda, tidak mungkin tidak mengalami konflik.

Begitu mengalami konflik, mereka akan mulai meragukan apakah benar pasangan yang dinikahi adalah soulmate mereka. Kemudian mereka mulai berpikir mungkin telah salah pilih. Hal ini berarti pula soulmate mereka masih ada di luar sana dan harus segera dicari. Tidak heran jika mereka mengakhiri hubungan mereka demi menemukan soulmate yang sesungguhnya.

Baca Juga: Mengapa Cinta adalah Alasan yang Keliru dan Apa Alasan yang Tepat untuk Menikah, Menurut Pakar Psikologi

Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa konsep soulmate ini bisa membawa akibat yang cukup fatal jika tidak diterapkan dengan berhati-hati. 

Meskipun demikian, tidak berarti konsep ini tidak mempunyai aspek positif. Konsep bahwa Tuhan sudah menyiapkan pasangan bisa membuat seseorang lebih tenang karena merasa Tuhan tidak meninggalkan mereka dalam usaha pencarian teman hidup. Tentu saja, jika diterapkan dengan bijaksana.

Kembali ke pertanyaan awal. Apakah sebenarnya konsep soulmate ini mitos atau realitas? Terlebih lagi, beberapa agama sepertinya mempunyai konsep yang mirip dengan konsep soulmate ini.

Menurut saya, yang lebih penting bukanlah menjawab pertanyaan ini. Namun, bagaimana menyikapi konsep ini dengan baik.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi efek negatif dari soulmate seperti yang disebutkan di atas. Yaitu kriteria yang dipakai untuk menentukan siapa yang menjadi soulmate dan harapan tentang pernikahan.

Alat yang dipakai untuk menentukan apakah seseorang adalah soulmate kita atau bukan sangat penting. Menggunakan alat yang salah dalam menentukan keputusan penting ini dapat menimbulkan akibat yang tidak diinginkan. 

Ada tiga alat yang mungkin dipakai untuk menilai apakah seseorang adalah soulmate kita atau bukan, yaitu: perasaan, intuisi, dan rasio.

Perasaan jelaslah bukanlah alat yang baik untuk dipakai, karena perasaan tidak sepenuhnya dapat dipercaya. Apalagi perasaan mereka yang sedang jatuh cinta. 

Intuisi memang bisa memberi petunjuk, asalkan intuisi ini telah dilatih dengan baik.

Oleh karena itu, saya cenderung memilih untuk menggunakan pikiran atau rasio sebagai penentu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here