Sebuah Perjalanan Terakhir yang Tak Terelakkan

Sangat banyak destinasi wisata yang belum pernah saya kunjungi.

Di dalam negeri, Bali adalah tujuan wisata dalam negeri terjauh yang pernah saya kunjungi sampai saat ini. Selebihnya adalah Batu-Malang, dan Solo, serta Yogyakarta. Sedangkan luar negeri, baru segelintir kota di China dan Jepang. Tentu ada keinginan untuk berpetualang di beberapa tujuan wisata lainnya, khususnya bersama keluarga terkasih.

Namun, ada satu tempat yang akan menjadi destinasi akhir dari perjalanan hidup setiap manusia.

Sebuah liang lahad berukuran kurang lebih dua kali satu meter. Perjalanan yang tak terelakkan bagi setiap kita.

Tak peduli bagaimana bagian luarnya, apakah dihiasi marmer yang indah, atau sebatas ditutupi gundukan tanah dengan penanda nama kita di atasnya. Di dalamnya hanyalah seonggok daging yang akan segera busuk dan tulang belulang yang bahkan lambat laun akan hancur juga.

Debu dan tanah.

Hanya itu yang akhirnya tersisa dari kita.

Seindah apa pun saat ini penampilan kita, itulah masa depan setiap manusia.

Baca Juga: Di Hidup yang Aneh Ini, Kita Semua Mencari

Sebuah berita duka lagi.

Saya menerimanya saat sedang menyusun tulisan ini. Dari seorang sahabat semasa SMU.

Papa saya berusia 83 tahun. Kurang lebih 10 tahun berkutat dengan penyakit jantung, maag, diabetes, ginjal dan stroke. Saking sakitnya hingga memohon pada Tuhan untuk segera dipanggil pulang. Hari ini permohonan itu dikabulkan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here