“Sejak bayi, saya tidak menyuapi Ishak. Dia makan sendiri,” kisah sang Mama.

“Sejak bayi?”

“Iya, sejak dia mulai bisa menggenggam sesuatu,” terang Mama Ishak. “Saya beri semua jenis makanan. Tapi, ya, berantakan makannya. Saya biarin aja.”

Saya mengangguk-angguk. Melihat bahwa saya sedang menyimak, Mama Ishak melanjutkan, “Jadi, karena dia sudah terbiasa makan sendiri, dia jadi suka makan.”

Makan menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk Ishak sejak bayi sampai sekarang. Ishak dapat menggenggam dan memberi makan dirinya sendiri. Berantakan sama sekali bukan masalah bagi sang Mama. Itu sebabnya Ishak pun tak rewel soal makanan.

“Paling enak kalau kita bepergian. Ishak bisa makan sendiri. Saya tidak perlu repot menyuapinya. Dia juga tidak pilih-pilih makanan,” kata sang Mama lagi sambil tersenyum.

“Wah, enak, ya, nggak pusing,” komentar saya. “Jadi nggak pernah ribut sama anak soal makanan, ya?”

“Nggak,” jawabnya sambil menggeleng dan tersenyum.

“Pintar juga Mama Ishak,” puji seorang ibu lain yang juga turut mendengarkan percakapan kami.

Saya mengangguk setuju.

Terlebih, setelah berselancar di internet, para ahli ternyata mengemukakan hal serupa yang dikatakan Mama Ishak.

Kelak, saya juga ingin mengikuti jejak Mama Ishak. Kalau bisa rukun, mengapa harus ribut? Apalagi soal makan!

2 COMMENTS

  1. Halo, Bu Farida.
    Terima kasih sudah baca artikel ini.
    Tentu sebagai ibu yang bijak pasti Bu Farida paham ya, kapan harus membiarkan anak makan sendiri dan kapan harus menyuapi anak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here