Potret keluarga di ruang tamu itu menarik perhatian saya. Sekilas melihat, saya sudah menemukan sebuah kejanggalan.

Seorang ayah, seorang ibu, dan dua orang anak. Semua berkulit putih dengan mata cenderung sipit. Dan kemudian, anak yang ketiga. Rambutnya ikal, kulitnya cenderung gelap. Begitu berbeda.

“Mungkin anak angkat keluarga ini,” batin saya.

Tak ada yang salah dengan hal itu. Mengangkat anak juga berarti melahirkannya. Bukan dari rahim, tetapi dari hati. Ini lebih baik daripada anak-anak yang hanya lahir dari rahim namun tidak dari hati sang ibu, sehingga ditelantarkan begitu saja.

Baca Juga: Saya Terpaksa Menyerahkan Anak Saya ke Panti Asuhan

Agaknya saya sudah berdiri terlalu lama menatap potret itu hingga pria sang empunya rumah mempersilakan saya untuk duduk. Sudah tersedia kopi serta beberapa makanan kecil di atas meja. Sebuah tawaran persahabatan di tengah dunia yang makin individualis. 

Kami, dua orang pria berselisih usia 20-an tahun, berbincang tentang banyak hal dalam kehidupan. Percakapan tentang ibadah, pekerjaan, relasi, dan keluarga. Di tengah percakapan, tak bisa saya menyimpan rasa ingin tahu, apakah anak tadi benar anak angkat keluarga ini?

”Mohon maaf, ya, Pak. Saya jadi penasaran dengan anak ketiga dalam potret itu,” kata saya sambil menunjuk potret keluarga yang besar. ”Apakah itu anak angkat Bapak? Penampilannya berbeda dengan saudara-saudaranya.”

”Oh, itu. Banyak yang mengira seperti itu, Pak. Tetapi, sebenarnya ia bukan anak angkat kami. Ia juga anak kami,” pria itu tersenyum memberi jawab.

”Lho, kok bisa beda ya, Pak, tampilan fisiknya? Saudara-saudaranya putih dan, maaf, agak sipit, yang ini cenderung gelap dan matanya cukup lebar,” saya jadi kian penasaran.

”Wah, itu ceritanya panjang sekali, Pak Wepe. Ayo diminum dulu saja kopinya,” ajaknya sambil mengambil makanan kecil yang ada di meja.

”Saya suka cerita panjang, Pak. Nanti boleh, ya, saya tuliskan?” pinta saya.

”Ya, saya tahu Bapak suka menuliskan cerita. Tapi, sama seperti yang lain, tolong jangan dituliskan nama dan lokasi ya, Pak. Saya sih enggak apa-apa, tapi kasihan anak saya nanti kalau ia di-bully orang-orang yang membaca tulisan Bapak,” tuturnya sambil mengaduk gula di cangkirnya.

Rasa ingin tahu saya semakin memuncak. “Ini pasti bakal jadi cerita yang bagus!” batin saya bersorak. 

Saya meminta izin untuk merekam percakapan kami. Pria itu mengizinkan, dengan catatan rekaman tersebut dihapus setelah saya menyelesaikan tulisan. Saya pun menyetujuinya.

“Ada saat dalam hidup saya, Pak Wepe, saya bekerja keras mencari uang demi kesejahteraan keluarga,” begitu ia mengawali kisahnya,

“Waktu itu saya dan istri sudah mempunyai dua orang anak. Saya benar-benar membanting tulang, sementara istri menjadi ibu rumah tangga. Tak kenal waktu, bahkan sering kali saya meninggalkan rumah demi perjalanan ke luar kota. Dan memang ada hasilnya, kesejahteraan bertambah. Namun, tanpa sadar ada yang sebenarnya berkurang.”

Ia terdiam.

”Tanpa saya sadari, yang berkurang adalah perhatian saya untuk istri. Ia kesepian. Berulang kali ia mengeluhkan hal ini, tapi saya anggap angin lalu. Saya anggap ia terlalu manja. Ada anak dua, kok kesepian.”

Sebagai seorang pria yang juga menikah dan mempunyai anak, saya memahami pola pikir pria di hadapan saya. Ya, beberapa pria juga berpikir demikian. Tidak mungkin seorang istri yang menjadi ibu rumah tangga dan mempunyai anak-anak mengalami kesepian.

”Benar kata orang, penyesalan itu selalu datang terlambat. Saya baru sadar istri saya serius dengan apa yang ia katakan, ketika ia pergi meninggalkan rumah,” ujarnya sambil menghela napas.

”Pergi ke mana, Pak?” tanya saya, gelisah.

Baca Juga: Dear Pak Suami, Ketika Istri Stres, Bantu Dia Memperbaiki Suasana Hati dengan Melakukan 5 Hal Ini

2 COMMENTS

  1. Bagaimana jika si suami lah yg berselingkuh?
    Ada bagian2 nasihat yg bagus buat saya, hanya bagaimana cara melupakan rasa sakit ini

Leave a Reply to admin501 Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here