Merasa ada sesuatu di balik perilaku tidak wajar anak itu, saya menoleh pada Priska. Awalnya, ia hanya berkata, “Iya, dia sudah lama tidak ikut ibadah anak. Dia juga terlalu sering menonton dan main game, jadinya begini.”

Orang bilang, anak Priska kerasukan roh jahat. Pedih hati saya mendengarnya.

“Mengapa bisa terjadi seperti ini?” saya bertanya di dalam hati.

Seolah bisa mendengar pertanyaan saya, Priska perlahan menuturkan kisah rumah tangganya.

Aku memutuskan untuk berpisah dengan suamiku.”

Betapa mengejutkan mendengar kalimat itu terucap dari Priska. Terus terang, saya sama sekali tidak berpengalaman dalam persoalan perceraian. Bagi saya, itu persoalan yang amat berat. Dan sekarang, teman saya sendiri yang sedang mengalaminya.

Saya tidak bisa memberikan tanggapan selain, “Apakah sudah dipikirkan baik-baik, Pris, keputusanmu itu?”

Baca Juga: Sempat Tercetus Kata ‘Cerai’, Begini Cara Inul Menyelamatkan Pernikahannya

“Suamiku kasar. Aku sering mendapat perlakuan kasar dari suami. Dan anakku melihatnya.”

Priska kemudian menceritakan kehidupan pernikahannya. Bagaimana suaminya kerap bertindak kasar kepadanya. Sampai anaknya menyaksikan langsung ketika kekerasan itu terjadi.

Anaknya pernah mencoba membela dan menolong Priska. Tetapi malah turut menjadi korban perlakuan kasar dari ayahnya sendiri.

Priska menyebut suaminya jahat. Sangat jahat dan keterlaluan.

“Aku yang berkerja banting tulang cari uang. Ke sana ke mari. Pergi pagi pulang malam.”

Suami Priska memang mengidap penyakit yang tidak memungkinkannya bekerja. Kedua matanya juga nyaris buta.

Selama ini, suami tinggal di rumah dan menjaga anak. Priska yang mencari nafkah untuk membiayai keluarga.

Priska merasa keluarga mereka bisa hidup berkat kerja kerasnya setiap hari. Bukan karena suaminya.

“Sekarang aku sudah banyak uang, aku sudah sukses.”

Masih termangu, saya tidak tahu harus berkata apa. Pikiran jahat saya bahkan sempat menuduh, jangan-jangan Priska selingkuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here