“Oh, hebat juga, ya,” ujar saya, “Kenapa mau nikah sama Hana?”

“Kan, Hana cantik, Miss.”

“Kamu tahu aja Hana cantik,” goda saya. “Jadi kapan nikahnya? Tanggal berapa?”

Kevin yang tidak menyangka akan dapat pertanyaan seperti itu kemudian cengar-cengir malu. “Ya belum sekarang lah, Miss.”

“Ya memang nggak sekarang, tapi, kan, kalau serius mau nikah harus tentukan mau nikah tanggal berapa. Jadi kapan?”

“Eeeehhmmmm … Nggak tahu, lah, Miss … nanti dipikir dulu,” jawabnya sambil tersenyum kebingungan, serasa dikejar calon ibu mertua.

“Betul, Kevin. Memang pilih tanggal nikah harus dipikir dulu baik-baik,” sahut saya sambil tersenyum balik. “Jadi kamu sudah ngomong sama Papa Mama-nya Hana kalau mau nikah?”

Serangan kedua diluncurkan. Kevin tidak menyembunyikan kekagetannya.

“Hah? Ngomong apa Miss?”

“Loh? Kamu belum ngomong?” Saya pura-pura kaget. “Miss kira kamu sudah ngomong. Pacar Miss Novi sudah ngomong ke Mamanya Miss Novi kalau dia mau nikah sama Miss Novi.”

“Oh, jadi harus ngomong dulu?” tanyanya polos.

“Loh iya dong. Kan, kamu mau nikah sama anak orang,” jelas saya. “Jadi kapan kamu mau ngomong sama Papa Mamanya?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here