“Perhatian yang aku inginkan, bukan pemberian barang-barang itu!”

Seorang ibu muda datang kepada saya dan menceritakan bagaimana perasaannya. Ia mempunyai saudara kandung, namun ia merasa hubungannya dengan saudaranya itu tidak seperti dengan saudara sendiri.

Kecewa atas perlakuan saudara kandungnya sendiri terhadap dia di masa lalu menjadi alasan untuk menganggap saudara kandungnya bukan lagi saudara kandung.

Si ibu muda tersebut berkata, “Saya memang punya kakak-kakak kandung secara biologis tetapi secara sosiologis mereka bukan kakak kandung saya.”

Ia bercerita bagaimana ia lebih bisa menganggap orang lain sebagai kakak karena orang lain lebih bisa menerima dirinya apa adanya. Saat ia sedang sakit atau susah, orang lain bisa ‘selalu ada’ dibandingkan saudara kandungnya sendiri.

‘Ya, saya punya orang-orang yang pantas saya anggap sebagai kakak di sini. Mereka selalu mengerti saya, menerima saya, mendengar cerita saya dan menguatkan saya. Mereka selalu berbagi apa yang mereka punya dengan saya. Kami sering menghabiskan waktu bersama, jalan-jalan, traveling, makan-makan. Saya menganggap mereka adalah kakak saya sendiri karena mereka begitu memperhatikan saya’

Walaupun ada ribuan keluhan yang diceritakan kepada saya tentang kekecewaannya terhadap kakak kandungnya sendiri, tetapi saya sangat meyakini bahwa si ibu muda tersebut berharap kakak kandungnya akan memperhatikannya.

Si ibu muda tersebut juga sempat menceritakan bagaimana cara kakaknya memberikan perhatian kepadanya pada saat-saat tertentu.

Misalnya, pada saat ia berulang tahun, kakaknya memberikan hadiah yang begitu mewah dan mahal. Ketika kakaknya itu pulang dari traveling ke luar kota, ia juga membawakan adiknya tersebut buah tangan (oleh-oleh). Namun, tetap saja si ibu muda tersebut mengatakan bahwa bukan pemberian (hadiah/barang) yang dia harapkan. Lebih daripada semua itu, perhatian sang kakak terhadap dirinyalah yang ia harapkan.

Saya tidak bisa serta merta menghakimi si kakak yang disebut minim perhatian dan kasih sayang terhadap adiknya. Saya yakin, bukan hanya seorang adik saja yang butuh perhatian dari kakaknya, seorang kakak juga butuh perhatian. Setiap orang pasti membutuhkan perhatian orang lain.

Pelajaran apa yang bisa saya ambil dari pedihnya perasaan seorang adik yang merindukan perhatian kakaknya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here