3. The Illusion of More

Bila pertanyaan “Menjadi seperti siapakah diantara berbagai karakter film Aladdin yang kamu harapkan untuk anak-anakmu?” ditanyakan, rasanya hampir tidak ada orang tua yang akan memilih Jafar sebagai jawaban.

Photo credit: Walt Disney Studios

Namun demikian, tindakan-tindakan yang diambil oleh kebanyakan orang tua akan memperlihatkan fakta yang berbeda.

Tanpa sadar, banyak orang tua menjalankan hidup tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Jafar.

Orang tua yang terus memuaskan hasrat dan keinginan anak-anak mereka. Orang tua yang selalu membandingkan anak-anak mereka. Merendahkan mereka yang lebih miskin, meninggikan mereka yang lebih kaya. Menjadikan harta, kedudukan, dan kekuasaan sebagai ukuran nilai manusia.

Orang tua yang tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki.

Poin terakhir mendapatkan sorotan khusus di film Aladdin.

Mulai dari peringatan Jin kepada Aladdin, “tidak ada uang dan kuasa yang cukup dalam dunia ini untuk memuaskan engkau,” hingga kepada tindakan Jafar yang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki. Kita berulang kali diingatkan akan bahaya dari rasa tidak pernah puas.

Saya berharap anak-anak kami bisa belajar untuk hidup dengan rasa syukur. Saya berharap agar kisah Jafar – yang kelihatannya memiliki segalanya tetapi selalu merasa kurang – mengingatkan mereka bahwa usaha mengejar uang dan kuasa adalah usaha yang sia-sia.

Saya berharap anak-anak saya bisa mengerti arti dari rasa cukup. Saya berharap mereka bisa mengalahkan keserakahan dengan kemurahan. 

Tarian dengan alunan musik “Friend Like Me” menutup film Aladdin.

Tulisan ini akan saya tutup pula dengan sebuah harapan. Harapan agar Anda dan saya bisa memanfaatkan waktu indah bersama keluarga untuk apa yang sungguh-sungguh berharga.

Setiap kali anak kita bertanya tentang Aladdin, marilah kita dengan bijak menyisipkan satu atau dua prinsip ke dalam pembicaraan. Ketika berulang-ulang mereka menanyakan hal yang sama, janganlah kita menjadi bosan dan menyuruh mereka berhenti bertanya. 

Sebaliknya, jadikan waktu itu sebagai kesempatan berharga untuk ‘mengasah’ anak-anak kita

the real diamond in the rough.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here