Malam itu saya sedang makan sendirian di sebuah restoran cepat saji. Lalu datanglah satu keluarga dan duduk di meja sebelah saya. Ayah, ibu, anak laki-laki berusia lima tahun (sebut saja Raka), dan bayi perempuan berumur sekitar lima bulan.

Sang ayah segera melahap makanannya, sedangkan istrinya berusaha menenangkan bayi mereka yang sedang menangis. Sementara itu Raka langsung melesat ke area bermain. Beberapa saat kemudian, Ayah yang sudah selesai makan memanggil Raka untuk makan. Raka pun merengek minta ice cream dahulu sebelum makan.

Setelah selesai makan ice cream, sang Ibu menyuapi Raka dengan penuh bujuk rayu dan antisipasi. Ya … antisipasi menahan Raka supaya tidak berlari lagi ke area bermain. Ia melakukannya sambil sesekali menenangkan bayinya yang masih rewel.

Akhirnya “pertempuran” selesai. Raka segera melesat bermain. Baru kemudian sang ibu duduk untuk makan, masih sambil sesekali berdiri untuk menenangkan si bayi yang juga masih rewel.

Apa yang dilakukan sang ayah ketika semua adegan itu terjadi?

Duduk santai sambil berkutat dengan gawainya!

Dan apa yang saya lakukan ketika adegan keluarga di sebelah saya itu berlangsung? Menahan rasa kesal.

Lha, kenapa? Kok saya kesal?

Karena urusan anak itu bukan hanya urusan istri. Membuatnya bersama-sama, kenapa yang repot mengurus hanya istri?

Memang, suami dan istri memiliki peran budaya dan moral masing-masing. Suami sebagai breadwinner (pencari rezeki), sementara istri memastikan keluarga dan rumah dalam kondisi baik. Namun, bukankah peran tersebut akan dapat dijalani dengan ringan apabila ada “saling membantu” di dalamnya?

Istri, membantu suami me-manage keuangan, sehingga hasil kerja keras suami dapat dimanfaatkan dengan bijaksana. Dan suami? Walaupun Anda tidak dapat menyusui, tetapi paling tidak, bisa kan menolong istri merasa nyaman sehingga bisa menyusui dengan penuh sukacita?

Hal-hal lain apa yang bisa Anda para suami lakukan untuk membuat istri happy?

1. Be Creative

Saya baru masuk ke dalam toilet sekitar empat menit dan anak laki-laki saya (3,5 tahun) sudah mengetok-ngetok pintu sebanyak 8 kali. Saya yakin semua ibu pernah mengalami hal ini. Bisa duduk di toilet dengan damai sejahtera itu sungguh merupakan sebuah privilege. Belum lagi urusan makan.

Kami para ibu itu mengalahkan kecepatan cahaya ketika kami harus makan. Mengapa? Karena anak-anak tidak pernah membiarkan ibunya makan dengan nikmat. Adaaa saja yang mereka perlukan, yang minta dibenerin mainanlah, yang minta tolong dicarikan sandal, yang minta diambilkan snack, yang minta dibacakan buku, dan hal-hal yang tidak urgent lainnya.

Kami bukannya mengeluh untuk menjalani semua hal indah sebagai ibu. Kami bangga bahkan karena anak-anak begitu mengagumi ibu mereka. Namun, alangkah bahagianya kami apabila kaum ayah berkata, “Mama baru makan nak, sini main sama papa aja”, atau, “Mama biar istirahat sebentar nak, sini baca bukunya sama Papa aja.”

Duuhhh, dijamin membuat hati kami meleleh. Perlu diingat juga, istri yang meleleh hatinya itu akan memberikan apa saja demi kebahagiaan suami yang sudah melelehkan hatinya #hohoho.

Nah, masalahnya, banyak suami yang sering berkata bahwa mereka tidak tahu harus bermain apa. Mereka tidak tahu bagaimana cara mebacakan cerita, tidak tahu bagaimana cara membujuk anak supaya mau makan, dan ketidaktahuan yang lain mengenai dunia anak.

Well, ada kabar gembira untuk Anda para suami: BE CREATIVE. Googling-lah dengan keyword: Edugame anak-anak”, “Fun activities with children“, “Cara membujuk anak untuk mau makan”, dan banyak hal lain yang berhubungan dengan dunia tumbuh kembang anak. Manfaatkanlah gawai Anda dengan baik. Tidak hanya sekadar untuk baca berita online atau main game atau scrolling timeline di media sosial.

Hasil penelitian dari Emory University, Atlanta, menyatakan bahwa bermain dan memeluk anak membuat hormon oksitosin dalam tubuh anak dan orangtua meningkat. Hormon yang sering disebut sebagai ‘cuddle hormone’ ini membuat anak nyaman dan meningkatkan rasa empatinya. Sementara bagi Ayah, peningkatan hormon ini berkaitan dengan pengendalian emosi, serta meningkatkan rasa nyamannya terhadap si anak.

Peningkatan hormon dan penguatan bonding ini lebih mudah dialami oleh ibu dalam proses menyusui. Namun kini peneliti mengungkapkan bahwa Ayah pun bisa mengalami proses ini ketika mereka bermain dengan sang anak sesering mungkin.

Nah kan, walau tidak bisa menyusui, tetapi Ayah juga bisa kok memiliki bonding yang mendalam dengan anaknya ūüôā

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here