Saya merasa terganggu dengan kalimat tersebut, saya juga terganggu dengan perubahan emosinya yang mendadak, nada tinggi kata-katanya dan matanya yang menyorotkan kemarahan atau kepahitan.  

Dari sini saya bertanya-tanya, apakah ini berkaitan dengan perasaannya bahwa ia mungkin merasa  kehadirannya tidak diharapkan karena dikatakan anak bonus? Padahal kami sangat menyanyanginya dan tidak membeda-bedakan dalam menyayangi anak-anak kami.

Pemulihan Hubungan Terjadi

Saya bergumul dan berdoa. Saya juga berbagi hal ini kepada suami. Saya berdoa, apa yang harus saya katakan untuk menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin. Tuhan memberiku ide. Suatu malam sebelum tidur saya bercerita tentang perjalanan suka-dukaku  mempunyai anak dari kehamilan pertama sampai dia.

Antara lain saya katakan bahwa saya menghendaki anak kedua  empat tahun sebelum kelahirannya ketika kakaknya berumur 3 tahun. “Mama menunggu-nunggu kelahiranmu selama 4 tahun..!” Kalimat dalam suratnya untuk kami itu bisa bermakna ganda. Tapi yang pasti, hari-hari selanjutnya setelah cerita itu, saya tidak lagi melihat sorotan matanya yang tajam itu.

Pelajaran Berharga bagi Orangtua dan Anak

Kita, khususnya para orang tua, seringkali tidak sadar bahwa kita telah melakukan pelecehan emosional melalui ucapan serius atau ucapan guyonan. Seringkali orang tua melakukannya tanpa rasa benci, tidak bermaksud jahat, dan dapat juga sebagai hasil pembelajaran dari pola pengasuhan orang tua mereka masing-masing.

Kita, terutama anak-anak, juga tidak sadar sering menjadi korban pelecehan emosional. Dampaknya bagi korban antara lain adalah terganggunya perasaan terhadap diri sendiri yaitu harga diri yang rendah, kurang percaya diri, perfeksionis, kecanduan, amarah yang tidak terselesaikan, hubungan yang tidak wajar  dengan orang lain, ketakutan, dan rasa bersalah yang berlebihan.

Proses penyembuhan korban dari pelecehan emosional memerlukan waktu dan usaha. Korban perlu ditolong supaya tidak mentransfer pola hubungan yang salah yang pernah dialaminya kepada anak-anaknya atau orang sekitarnya.

Kehadiran seorang ibu sangat penting dalam merawat anak-anak di rumah karena seorang perempuan mempunyai kelebihan untuk memperhatikan sampai hal yang detil, misalnya perubahan ekspresi mata dan wajah, perubahan mood. Hal-hal ini pada umumnya tidak dimiliki para ayah yang seharian bekerja di luar rumah. Tuhan pasti mempunyai maksud yang baik dengan kehadiran orang tua yang berbeda jenis kelamin, dengan peran, fungsi dan kelebihan masing-masing. 

Baca Juga:

Tren Bunuh Diri di Kalangan Remaja. Satu Hal Ini Dapat Kita Lakukan untuk Mencegahnya

Remaja Zaman Now: Mengapa Begitu Lekat dengan Medsos? Ada Kegelisahan Hakiki yang Perlu Kita Pahami [in-depth study]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here