Sembari merenungkan kedua hal tersebut, saya makin yakin tentang satu hal pasti yang bisa saya lakukan :

Memberikan sex education kepada anak-anak saya. Hah? Jauh banget ya solusinya?

Memang, untuk kasus Ria, pemberian sex education tidak akan memberi solusi sama sekali untuk masalah yang sedang ia hadapi. Namun, akan sangat menolong untuk mencegah terjadinya kasus Ria-Ria yang lain. 

Selain Sex Education? Yang harus dikuatkan adalah tingkat kerelijiusan anak semenjak dini. Suruh ia rajin beribadah, rajin ikut kelas-kelas pendalaman agama. “Udah gitu aja, dijamin deh ga akan aneh-aneh kok anaknya”.

Namun, teryata bukan itu saja sebab tingkat kerelijiusan tidak menentukan apakah anak akan terlindungi. Mengapa demikian? Menurut sebuah hasil Skripsi dengan judul “Hubungan Antara Religiusitas dengan Perilaku Seks Bebas Pada Siswa SMA Z Surakarta” diperoleh hasil bahwa: tidak ada hubungannya antara tingkat religiusitas remaja dengan perilaku seks bebas.

Artinya apa? Bahwa kalaupun tingkat religiusitas anak kita tinggi, bukan berarti akan otomatis terhindar dari perilaku seks bebas. 

Karena religiusitas cenderung berada pada tahap pembiasaan saja. Pembiasaan untuk beribadah, pembiasaan untuk berdoa, pembiasaan untuk menjaga sikap di depan orang, dan pembiasaan-pembiasaan positif lainnya. Bagus memang dan tentu saja perlu, namun tidak cukup untuk membekali anak-anak kita.

Lalu, kita sebagai orangtua harus bagaimana? Banyak hal yang bisa kita lakukan, seperti :

  • Menciptakan suasana rumah yang nyaman untuk anak bebas bercerita
  • Menjalin kedekatan secara emosional dengan anak semenjak dini
  • Ikut mengenal dan bergaul dengan teman-teman anak-anak ketika mereka ketika beranjak remaja

Namun, ada satu area yang kita tidak boleh tinggalkan dalam mengiring tumbuh kembang anak-anak kita, yaitu mengenai sex education. Ada banyak artikel mengenai sex education yang bisa kita baca, namun izinkanlah saya berbagi panduan ini:

Pendidikan Seks untuk anak di bawah 7 tahun:

  • Berikan info mendasar tentang status gender : kamu laki-laki dan kamu perempuan.
  • Bahwa alat kelamin bersifat personal, tidak boleh dipegang oleh orang lain.
  • Untuk menjaga kebersihan alat kelamin. Salah satunya tidak boleh dipegang-pegang, karena nanti akan kotor.

Pendidikan Seks untuk anak usia 8–12 tahun:

  • Memberi tahu bahwa nanti akan ada perubahan-perubahan fisik yang akan mereka alami.
  • Sudah ada privacy yang lebih, sehingga harus bisa mandi sendiri . Tidak boleh dengan lawan jenis, sekalipun kakak atau adik.
  • Menjaga kesopanan antara teman beda gender. Jangan sembarang memegang atau bersedia dipegang oleh orang lain.

Pendidikan Seks untuk anak di atas 13 tahun:

  • Hubungan seksual yang sehat antara pria dan wanita.
  • Konsekuensi-konsekuensi dari seks bebas (kehamilan, pernikahan dini, dan aborsi)
  • Penyakit kelamin hingga AIDS

Tantangan orangtua di zaman now ini semakin hebat, dengan maraknya media sosial dan makin mudahnya akses internet. Maka kita harus terus pintar mengatur strategi demi anak-anak kita, karena ternyata relijiusitas saja tidaklah cukup. Seperti suami Ria, yang besar di keluarga yang sangat relijius, namun terjebak di dalam perilaku seks bebas.

Semoga semakin hari semakin tidak ada Ria-Ria yang lain. 

Baca Juga:

Ketika Pacar Mengajak Berhubungan Seks dan Kamu Ragu: Apakah Itu Cinta atau Sekadar Nafsu?

Seks Pranikah bagi Perempuan: Tiga Hal Penting Ini ‘Hilang’ Seiring dengan Keperawanan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here