Di luar dugaan, beberapa rekan memberikan komentar, “Terima kasih sudah berbagi cerita, saya merasa terberkati”. Sebagian lain memberikan pujian melalui pesan pribadi, “Wah, tulisannya bagus, terima kasih sudah share.” Apresiasi itu memberikan saya suatu energi positif yang membuat kepercayaan diri meningkat dan jadi ingin berkarya lebih lagi.

Entah apresiasi itu tulus atau dibuat-buat, saya tidak tahu. Namun yang pasti itu berdampak besar dalam hidup saya yang minder ini untuk terus belajar dan berbagi. Ada perasaan tidak ingin mengecewakan orang yang telah memberi apresiasi itu dengan terus mengembangkan diri.

Sepele, Namun Sering Terabaikan

Banyak orang tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan atau karya yang dihasilkannya itu berharga dan bermakna. Itulah yang saya rasakan.

Terkadang seseorang hanya butuh satu kata dari mulut kita agar mereka bisa mengubah cara pandang terhadap diri mereka sendiri, sebelum pada akhirnya itu mengubah hidup mereka.

Kata itu bukan cacian, bukan pula penghakiman. Tidak harus kita belajar psikologi atau mengikuti seminar motivasi. Tidak selalu target yang harus dielu-elukan, cukup dengan memberikan apresiasi, kata itu dapat tergores dalam memori seseorang selamanya.

Entah kita sebagai orangtua kepada anak, atasan kepada bawahan, rekan terhadap rekan yang lain, bahkan relasi suami-istri. Bagi kita mungkin sepele, namun siapa yang tahu kalau itu dapat berdampak besar bagi mereka.

Apa sulitnya berkata, “Wah karya/ kerjamu bagus” jika memang itu bagus? Yang sulit adalah merendahkan hati dan mengakui kehebatan orang lain.

Sayangnya, bibir kita lebih ringan untuk mengeluarkan kata-kata cacian dan ujaran yang merendahkan.

Arogan dan cuek. Itulah alasan mengapa kita enggan dan sulit memberikan apresiasi.

Mengapresiasi, bukan hanya menunjukkan sebuah pengakuan, namun juga kepedulian kita akan hidup seseorang. Mari budayakan apresiasi!

Baca Juga:

Remaja Zaman Now: Mengapa Begitu Lekat dengan Medsos? Ada Kegelisahan Hakiki yang Perlu Kita Pahami [in-depth study]

Hubungan Cinta yang Bahagia Mungkin Memang yang Dijalani Berdua Saja. Menikah Diam-diam, Jo Jung Suk dan Gummy Membuktikannya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here