Perbedaan yang tampaknya sederhana berakibat fatal jika tidak diselesaikan. Persis seperti kisah pak guru di atas. Oleh sebab itu, meskipun sukar, kita tetap harus berusaha melihat dari kacamata orang lain. Bukan perspektif kita sendiri.

2. Yang sederhana menurut kita bisa jadi kompleks menurut pasangan

Istri pernah marah saat saya membeli sebuah dasi di bandara. Menurutnya dasi saya sudah banyak. Dulu saya memang sering membeli dasi saat masih tugas di luar negeri. Itu pun saya beli saat ‘great sale’.

Sebagai pembicara publik, saya merasa perlu untuk menjaga penampilan saya. Sejak itu saya tidak pernah membeli dasi lagi meskipun terkadang masih tergoda saat melihat ada warna baru yang belum saya miliki. Beruntung ada rekan-rekan yang melihat kebutuhan ini dan membelikannya untuk saya. 

Demikian juga dengan jas. Saya kadang sedih saat seorang usahawan berkata, “Jas Bapak sudah ketinggalan zaman.” Meskipun disampaikan dengan cara bergurau, saya sedikit tersinggung.

Sebagai perbandingan, ada seorang ibu yang tidak pernah nyinyir terhadap penampilan saya tetapi justru membelikannya untuk saya saat pulang dari luar negeri. Rasa tersinggung saya berkurang drastis saat di rumah anak menolak memakai jas saya untuk acara ultah temannya.

“Modelnya kayak bapak-bapak.” Perasaan saya bergolak antara jengkel dan geli. Ya jelas wong kita beda generasi. 

3. Konflik kecil bisa menjadi memori indah apabila dikelola dengan baik

Di hari libur, saat saya berada di rumah saja, ada tukang yang membongkar lantai rumah karena keramik meledak, saya melihat Instagram seorang sahabat yang sedang bermain di pantai bersama suami dan anak-anaknya. “Untuk mengumpulkan memori,” begitu caption-nya.

Ibu itu melakukan hal yang benar. Kebersamaan bisa menimbulkan bonding dan menambah intimacy. Betapa sering keluarga berantakan karena tidak pernah punya waktu untuk bersenang-senang bersama. Sebaliknya, ada orang yang begitu sering liburan sehingga membuat warganet nyinyir. Komentar negatif artinya iri.

Sebaliknya, menyimpan kenangan buruk membuat kita tidak bisa move on. Contohnya ibu yang ditinggal meninggal oleh suami tercinta dalam kisah di atas. Di satu sisi, kemeja baru yang belum sempat dipakai suaminya itu bisa menjadi pengingat bahwa hal sepele bisa berakibat fatal jika tidak dikelola dengan benar.

Namun, di sisi lain, menyimpan kemeja itu membuat ibu itu sulit menerima kenyataan, bahwa suaminya sudah tiada, bahkan membuatnya memelihara peyesalan dan kesedihan. 

“Pak Xavier, apakah saya harus mengembalikan barang-barang mantan setelah kami putus, menyimpannya, memberikannya kepada orang lain atau membuangnya?” tanya seorang gadis kepada saya.

Ada hal yang tidak bisa dikembalikan. Ada yang bisa. Namun, reaksi mantan bisa berbeda-beda.

“Sejauh mana keterikatanmu terhadap barang itu?” tanya saya kembali. “Itulah yang menjadi tolok ukurnya. Jika tidak mengganggu, ya sudah.”

“Kalau begitu saya simpan boneka pandanya ya? Karena besar sekali dan he, he, he, sangat saya sayangi,” sambungnya.

“Mana yang lebih engkau sayangi? Mantanmu atau bonekamu?” pertanyaan saya ini dijawab dengan tertawa ngakak. “Udah, saya traktir Bapak saja, ayo jalan.”

Baca Juga:

Satu Ruang yang Menjaga Keutuhan Pernikahan

Menjaga Pernikahan dari Perceraian, Begini Kata Pakarnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here