2. Perceraian itu gejalanya seperti Kanker

Penyakit kanker memang sangat menakutkan. Salah satu dari sekian banyak penyakit yang ditengarai sebagai ‘pembunuh’ diam-diam. Dari beberapa kasus yang ada, banyak orang yang bahkan tidak menyadari bahwa mereka sudah terjangkit penyakit ini cukup lama. Beberapa gejala yang muncul, awalnya tidak terlalu memberikan tanda yang jelas akan kehadiran penyakit ini, tetapi lambat laun, orang tersebut mengalami ada keluhan yang tak lagi dapat dihindari.

Demikian juga kasus perceraian. Tidak ada kasus perceraian yang tiba-tiba muncul. Semuanya terjadi dengan beberapa gejala awal yang mungkin kita abaikan. Hingga akhirnya kita sudah masuk dalam fase yang kronis dan sulit untuk diobati.

Seseorang pernah berkata, “Untuk dicintai, jadilah orang yang patut dicintai!”

Ya! Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, seringkali kita tidak peka dengan apa yang sedang terjadi. Komunikasi yang dingin, hanya bicara seperlunya, konflik yang selesai tanpa ada permintaan maaf, kekesalan yang dipendam, hingga sakit hati yang dianggap fantasi, menjadi gejala-gejala awal yang mungkin perlu kita perhatikan.

Sama seperti kisah Gisel dan Gading yang terlihat baik-baik saja, bisa jadi pernikahan kita pun sedang mengalami hal yang serupa. Lakukan tindakan, jangan biarkan ‘kanker’ itu terus menggerogoti tubuh pernikahan Anda berdua. Jadilah pribadi yang tetap layak untuk dicintai pasangan anda.

Baca Juga: Di Tengah Keriuhan Tagar #SaveGempi, 3 Hal Ini yang Harus Kita Peduli

 

3. Memahami tak sama dengan menjalani

Sebelum kami berpisah, rekan saya berkata sambil menunjuk seorang rekan kami yang baru saja pergi mengendarai mobilnya,“Lihat! Kalau nanti dia menikah, pasti siplah!” demikian ujarnya.

Yang ia maksudkan adalah seseorang yang sangat memahami tujuan, arti, dan makna sebuah pernikahan. Orang ini juga dipercaya sebagai seorang yang sangat mengerti dan sangat aktif  dalam kegiatan-kegiatan rohani.

Sambil menatap wajahnya, saya pun tersenyum dan berkata: ‘Tak semudah itu!’

Respons saya ini bukanlah ungkapan pesimisme. Namun ini sebuah fakta. Teori tak melulu mudah untuk dilakukan. Memahami tak selalu berbanding lurus dengan melakukan Click To Tweet.

Saya yakin Gisel dan Gading mengerti arti dan makna sebuah pernikahan. Namun, saya juga menyakini bagi mereka berdua untuk menjalani pernikahan tak semudah memahami maknanya saja.

“Jika kamu mencintai orang yang mencintaimu, lalu apakah upahmu?” Pertanyaan ini pernah diajukan oleh seorang guru pada murid-muridnya.   Sebuah pertanyaan yang mengajak kita merenungkan bahwa,” Cinta hanya berarti ketika orang yang kita cinta tak lagi mencintai kita! Karena cinta menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

Be patient with each other, making allowance for each other’s faults because of your love

 

Seandainya artikel ini bisa dibaca oleh Gisel dan Gading, saya berharap kiranya kekuatan Cinta itu dapat membalut dan menyembuhkan sakit yang terasa, sehingga bahtera itu dapat kembali berlayar di samudra kehidupan.

 

Baca Juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here