Contohnya,

Berapa banyak dari kita yang memilih untuk bekerja hingga larut malam daripada pulang dan bertemu dengan “masalah”?

Atau memberikan anak berbagai aktivitas sehingga kita tidak perlu menghabiskan energi untuk mengajar mereka?

Atau mungkin pula tindakan itu berupa pilihan untuk menutup mata terhadap perilaku buruk dari pasangan tanpa upaya untuk mengajak mereka menjadi lebih baik?

Atau memilih diam dan mengalihkan pembicaraan ketika pihak lain sedang berusaha untuk mengangkat topik yang bermasalah?

 

Meninggalkan Masalah Tidak Selalu Bijak

Saya teringat bagaimana setelah bertengkar dengan anak perempuannya yang sudah remaja, seorang ayah akhirnya memilih untuk pergi keluar rumah karena pusing bagaimana harus menghadapi anaknya itu. Buat sang ayah, pergi keluar adalah usaha untuk menenangkan diri dari permasalahan yang ada. Bukankah itu adalah hal yang wajar untuk dilakukan?

Akan tetapi, anak perempuan ini kemudian melakukan sebuah hal yang berani. Tak lama setelah ayahnya keluar, ia pun memutar nomor handphone ayahnya. Dengan emosi yang masih membara, ayah itu menjawab panggilan itu. Si anak kemudian berkata: “Pa, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu pergi?”

Putrinya ini kemudian menjelaskan bahwa ia tahu ada permasalahan di antara mereka. Ia tahu bahwa mereka saling marah dan memiliki pendapat yang berbeda. Namun ia sedih ketika mengetahui bahwa ayahnya memilih untuk pergi. Buat putri ini, tindakan ayahnya itu diartikan sebagai pernyataan bahwa ia ditinggal sendiri untuk menghadapi masalah mereka. Putri ini merasa bahwa masalah itu telah memecahkan hubungan mereka. Padahal, kata putri ini, ia sangat membutuhkan kehadiran ayahnya.

Di saat-saat ketika masalah menjadi begitu besar dan rumit, ia perlu tahu bahwa ayahnya akan selalu ada di sisinya. Pada waktu ketika ia memberontak dan melawan, anak ini perlu kepastian bahwa tidak ada satu hal atau masalah apa pun yang bisa mematahkan cinta dari ayahnya kepadanya.

“Kenapa kamu pergi, ayah?” tanyanya sambil menangis.

Dengan mata berlinang, sang ayah segera membalikkan mobilnya untuk pulang kembali. Ia menyadari bahwa bagi anaknya,

tindakannya untuk pergi itu sedang mempertaruhkan sesuatu yang jauh lebih penting dan berharga daripada permasalahan yang sedang diperdebatkan.

Ketika mendengarkan cerita tersebut, saya terkejut. Seperti kebanyakan orang, saya menghadapi masalah tanpa banyak memikirkan perasaan dan pandangan dari lawan bicara saya. Seperti ayah tadi, saya pun memiliki kecenderungan untuk bereaksi ketika kepala ini pusing dan hati terasa sumpek. Saya pun sering memilih untuk pergi dari tempat permasalahan, baik itu secara fisik, memutuskan hubungan telepon, atau keluar dari ruang chat di grup WA.

Tak jauh berbeda dengan perlakuan saya terhadap sopir angkot yang menabrak mobil tadi.

Baca Juga: Dulu, Pernikahan adalah Relasi yang Sederhana. Kini, Mempertahankan Rumah Tangga Semakin Tidak Mudah Saja. Apa yang Harus Dilakukan?

 

Tabrakan baru-baru ini mengingatkan saya akan tabrakan-tabrakan yang muncul dalam relasi kita. Cerita sang ayah tadi mengingatkan saya betapa pentingnya kita mengingat bahwa dalam setiap masalah, besar atau kecil, relasi itu sedang dipertaruhkan. Tindakan yang kita pilih akan membuat relasi itu semakin kuat atau semakin lemah.

Merupakan doa saya agar kita bisa belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu. Marilah kita menjadi lebih bijak dalam memberikan respons yang tepat atas tabrakan-tabrakan relasi yang terjadi dalam hidup ini.

Di tengah arus emosi yang kuat dan padat, tabrakan dalam relasi tidak akan terelakkan. Bagaimana kita meresponinya merupakan hal yang bisa kita kontrol.

Hari ini, maukah kita mengambil waktu sejenak untuk memikirkan siapakah lawan bicara itu bagi kita sebelum kita mengeluarkan respons kita? Benarkah dia seorang lawan yang perlu kita kalahkan atau musuh yang perlu kita tinggalkan?

 

Selamat berjuang untuk menjadi lebih baik demi mereka yang terpenting dalam hidupmu.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here