Masalah berbagi ini juga mengingatkan saya pada peristiwa beberapa hari sebelumnya. Saya merasa ‘dongkol’ setengah mati kepada suami yang sudah saya bawakan bekal dari rumah.

Dia membawa dua buah tempat makan. Satu berisi roti isi, dan satu lagi penuh dengan buah strawberry segar dan besar-besar yang dipetik langsung dari kebun. Buah-buah ini gratis, pemberian tetangga kami yang baru saja menikmati akhir pekan di kebun strawberry.

Awalnya, suami ingin membagikan buah itu kepada teman-teman kantornya. Namun, sebelum sampai di tempat tujuan, semua itu tandas di jalan!

Tak sengaja dia bertemu dengan seorang tunawisma yang sedang tertidur di halte tempatnya menunggu bus. Entah karena iba atau apa, hatinya tergerak untuk memberikan semua bekalnya kepada orang itu.

Baik roti isi dan strawberry yang sudah saya siapkan pagi-pagi di tengah tangisan dan rengekan anak yang melintir di bawah kaki saya saat saya menyiapkannya lenyap sudah!

Saya ingin marah, tetapi tidak bisa.

 

Bagaimanapun juga, pengalaman di atas meninggalkan pelajaran yang menarik untuk direnungkan: pelajaran tentang berbagi.

Mengapa ada orang yang ingin berbagi, tetapi ada juga yang sulit untuk berbagi? Mengapa penting bagi kita untuk mulai mengajarkan kepada anak-anak kita untuk mampu berbagi?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here