Seruput Kopi Cantik #14
Yenny Indra

 

Adakah Pria Baik di Dunia?

 

Kami sedang dalam perjalanan ke rumah Yuni, untuk mengikuti peringatan 100 hari meninggalnya Toni, suaminya. Kami bertiga. Mira, Tanti, dan saya.

Sejatinya saya tidak terlalu mengenal Yuni. Dia sahabat dekat Mira. Saya lebih banyak tahu tentang Yuni dari cerita-cerita Mira.

 

“Toni itu luar biasa baiknya. Baru kali ini aku melihat ada suami sebaik Toni,” ujar Mira.

“Oh, ya … bagaimana baiknya? Mungkin ga itu karena kamu cuma tahu kulitnya?” Tanti menyanggah.

“Dulunya aku juga berpikir begitu. Ingat, kan, waktu liburan paskah lalu, keluargaku berlibur ke Eropa Timur dengan keluarga Yuni? Kami bersama-sama selama 17 hari. Kalau cuma sehari dua hari, kita masih bisa jaga image. Tapi kalau 17 hari, apalagi dalam keadaan lelah ikut tur seharian, bangun pagi pulang malam, watak asli muncul semua. Orang ga bisa pura-pura lagi. Itulah Toni yang sesungguhnya,” Mira menjelaskan.

“Ayoo ceritain, Mir … Jadi penasaran, nih,” aku menyahut.

 

“Selama liburan, tidak pernah Toni itu marah atau sekadar jengkel sekali pun. Dia selalu berpikir positif. Suatu ketika Yuni kesal karena pelayan salah memberikan pesanannya.

Toni segera membujuk Yuni, ‘Sudah, Yang … Gak papa, ya … Mungkin pelayan tadi sibuk, jadi salah mencatat pesanan,’ begitu Toni membujuk sambil mengelus-elus bahu Yuni.

‘Aku ambilkan yang Yayang inginkan, ya …’ tambahnya.

Segera Toni membelikan makanan yang baru. Ke sana ke mari Toni yang sibuk meladeni Yuni. Makanan diambilkan, tas dibawakan … Aku sampai terheran-heran.”

“Wow … Baru sekali ini aku liat ada suami sebaik itu! Seperti pengantin baru saja,” ┬ákomentar Tanti dengan terpukau, “Berapa lama sih mereka menikah?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here