Bak makanan tanpa rasa pedas, seperti itulah hidup tanpa cinta. Cinta itu seperti cabai. Memberikan sensasi yang menyegarkan, membuat hidup lebih berwarna. Bisa dibayangkan betapa hambarnya hidup tanpa cinta; seperti makanan – seenak apa pun – terasa kurang mantap tanpa kehadiran cabai.

Cinta juga seperti cabai dikaji dari segi yang lain, yaitu terasa nikmat di awal. Rasa pedas akan meresap ke lidah pada suapan pertama dan menyampaikan kelezatan hingga ke ubun-ubun. Demikianlah cinta. Ketika kita jatuh pertama kali ke dalam lubang yang bernama cinta, ada rasa nikmat yang seakan membawa kita terbang ke langit ketujuh.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya?

Perlahan lidah kita mulai bisa beradaptasi terhadap rasa pedas itu, dan secara otomatis perlahan-lahan akan muncul yang namanya kekebalan. Kekebalan tersebut membuat lidah kita tidak lagi mempan terhadap level pedas yang biasa. Untuk mencapai kenikmatan seperti yang sudah pernah kita rasakan, maka tingkat kepedasan makanan perlu dinaikkan satu level lagi – di atas yang sebelumnya. Demikian seterusnya.

 

Begitu pula dengan cinta. Api asmara yang berkobar begitu hebatnya ketika masih pacaran atau ketika menjadi pengantin baru mungkin perlahan memudar. Click To Tweet

 

Bagaimana tidak? Setiap hari di saat bangun pagi yang kita lihat adalah wajah Si Dia, lagi dan lagi. Kita menyaksikan kebiasaannya, lagi dan lagi. Dari yang awalnya membangkitkan rasa antusias di dalam diri kita, kini akhirnya menjadi sebuah rutinitas. Borok-boroknya yang selama ini tersembunyi dari kita pun, mau tidak mau mulai tersingkap satu demi satu.

Tubuh pasangan kita yang dulunya seperti gitar spanyol, serasa mendadak berubah bentuk menjadi sebuah grand piano. Sifatnya yang dulunya manis bak madu, tiba-tiba berubah menjadi ketus bak serdadu.

Lama kelamaan hati kita menjadi seperti lidah yang terus menerus terpapar rasa pedas, dan menjadi kebal. Lebih tepatnya, cinta kita menjadi hambar. Kasih menjadi dingin. Tidak ada lagi kenikmatan di dalamnya.

Kalau ingin menambah rasa pedas pada makanan, gampang. Tinggal tambahlah jumlah cabainya. Tetapi, kalau rasa cinta? Bagaimana menambah rasa cinta?

Apa yang perlu kita lakukan?

 

Pertama: Ingat kembali masa-masa indah bersama pasangan kita.

Setiap kita tentu punya album kenangan masing-masing – entah itu dalam bentuk cetak seperti album foto, buku tahunan [mulai Sekolah Dasar sampai masa perkuliahan] maupun bentuk softcopy seperti foto di media sosial, video dokumenter, dan sebagainya. Jika tidak ada satu pun dari itu, minimal pasti ada rekaman di otak kita masing-masing.

Pernahkah kita iseng-iseng membuka album kenangan tersebut?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here