Seruput Kopi Cantik #11
Yenny Indra

 

Dengan bersungut-sungut, Doni menghampiri saya dan Nina yang sedang mempersiapkan acara bazar. Nina segera memberi kode supaya saya diam.

“Dea memang keterlaluan. Pelitnya minta ampun. Masa suami kehabisan uang juga gak peduli,” Doni curhat dengan penuh kemarahan, “kalau tidak ingat sudah punya dua anak, aku pilih minggat!”

Seperti biasa, kami berusaha menghibur dan mendinginkan suasana hati Doni. Hubungan Doni dan istrinya memang kerap memanas. Doni selalu mengeluh betapa jahat dan tidak berperasaan istrinya. Kami hanya mendengar masalah mereka dari sisi Doni, karena kami bernaung bersama dalam sebuah organisasi.

 

Pada suatu hari, organisasi kami mengadakan liburan bersama keluarga. Jadilah saya punya kesempatan mengenal Dea, istri Doni.

Ternyata Dea wanita yang lembut, tegas, dan tidak banyak bicara. Meski demikian, saya segera akrab dengan Dea. Sebabnya, kami sama-sama hobi membaca!

 

“Boleh ga aku bertanya, bagaimana hubunganmu dengan Doni?” saya memberanikan diri bertanya.

“Secara umum, Doni cukup bertanggung jawab. Dia mau bekerja. Pengelolaan keuangan aku yang pegang, kelihatannya Doni fine saja, sih.”

“Kamu tahu, De? Doni kerap mengeluh dengan teman-teman tentang cara kamu memperlakukannya. Terutama soal uang. Kalau sudah kepepet, Doni sering nebeng makan. Katanya kamu pelit, hingga dia ga pegang uang sama sekali.”

Dea terhenyak. Ia kemudian menghela napas panjang.

 

“Posisiku serba terjepit. Aku ga ingin Doni malu-maluin nebeng membebani teman-teman. Tetapi, berapa pun uang yang dipegangnya, selalu habis,” Dea lalu memperkecil volume suaranya, “Doni suka berjudi. Tolong jangan cerita pada teman lain. Aku sudah terlalu suntuk, ingin ada orang yang bisa memahami posisiku. Untung aku punya Tuhan tempat bergantung dan berharap. Hanya Tuhan yang menjadi sandaran hidupku.”

Jika Doni dibiarkan mengambil uang sesuai keinginannya, toko bisa bangkrut. Kalau sudah berjudi, Doni lupa daratan. Pertimbangan lenyap.

Untunglah Dea cerdik. Mereka menikah dengan status harta terpisah. Semua aset diatasnamakan Dea, sehingga keluarga terselamatkan.

 

“Aku lelah, Doni menjelek-jelekkan aku di luaran. Mereka tidak tahu kondisi sebenarnya. Orang bilang, judi itu satu paket dengan main perempuan dan obat-obatan. Aku tidak tahu apakah Doni terlibat dengan perempuan lain atau tidak. Aku tidak peduli lagi. Tapi untuk obat dan narkotika, aku tahu, tidak,” Dea menjelaskan.

“Saat kalah judi, Doni pulang uring-uringan. Semua disalahkan dan dijadikan pelampiasan rasa frustrasinya. Aku tidak mau meladeninya. Aku diam sampai Doni lelah sendiri.

Prinsipku,

aku harus tegas dan mampu mengelola bisnis serta keuangan secara cerdas. Demi masa depan anak-anak.

Doni tidak bisa diandalkan.

Kalau bukan aku, siapa lagi yang akan memikirkan masa depan mereka?”

 

Setiap rumah tangga punya bebannya masing-masing. Sering kali keadaan sebenarnya tidak seperti yang terlihat oleh mata.

Jika hanya mendengar dari sisi Doni, seolah Dea perempuan kejam dan tidak berperasaan. Akan tetapi, setelah memahami keadaan yang sesungguhnya, Dea bertindak benar. Dia sedang menyelamatkan keluarganya.

Saya berjanji akan memberi Dea buku bagus yang mungkin bisa menolongnya bersikap lebih bijak. Kami lalu menutup pertemuan itu dengan doa.

Tidak ada yang sulit bagi Tuhan. Termasuk menolong Doni dan memulihkan keluarga kecil mereka. Asalkan beriman saja.

 

“God can restore what was broken and change it into something amazing. All you need is faith.”

 

☕,

Yenny Indra
www.mpoin.com

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here