“Mengapa Tante mau mengakui anak-anak istri simpanan Om sebagai anak Tante? Berarti mereka berhak untuk menerima warisan juga?” tanya saya, ingin tahu.

“Tante sudah pikirkan hal ini sejak awal. Kalau Tante bercerai, justru ‘Wewe Gombel’ itu yang mendapat keuntungan. Perusahaan sudah besar. Dan sejujurnya, semua modal dari mertua,” mata Tante menerawang jauh.

“Satu-satunya cara untuk mempertahankan Om dan rumah tangga, ya … harus menerimanya. Kelemahan Om adalah perempuan. Kaya, ganteng, duit berlimpah. Apa yang tidak bisa didapatnya?

Tante menjadikan anak-anak itu sebagai anak Tante secara resmi. Dan Tante meminta mereka dibesarkan di rumah Tante. Kadang-kadang, waktu weekend mereka tinggal bersama ibu mereka. Atau waktu libur panjang tinggal di sana seminggu. Tetapi pertumbuhan dan pendidikan mereka dalam kendali Tante. Mereka dibentuk sesuai style dan kebiasaan keluarga Tante.

Uang untuk para istri simpanan, Tante yang kasih. Keuangan perusahaan ada dalam kendali Tante juga. Seberapa besar warisan juga Tante yang menentukan bersama Om. Tante bisa mengatur agar anak-anak kandung Tante berada pada posisi yang aman dan terjamin. Anak-anak Tante yang pegang peran penting. Yang lain sadar diri, mereka menerima.

 

Yenny,

jadi perempuan harus bijak.

Tidak semua berjalan seperti yang kita inginkan. Tidak usah cengeng.

Kalau nasi sudah jadi bubur, jangan ditangisi. Pikirkan bagaimana supaya bubur itu bisa nikmat. Bahkan menjadi lebih berharga daripada nasi.

 

Membesarkan anak-anak madu tidak mudah. Tetapi mereka tidak minta dilahirkan, dan mereka tidak berdosa. Pengorbanan Tante akhirnya menjadikan keluarga kami tetap utuh. Ketika makin tua, Om tidak lagi mendatangi para simpanan lagi.

Waktu muda dulu, mama Tante sudah menasihati,

suatu saat Om akan melupakan simpanannya. Tapi ia pasti terbeban dengan anak-anaknya.

Karena itulah anak-anak mereka Tante yang membesarkan. Jadi sekarang tidak ada yang membebani Om lagi untuk meninggalkan istri-istri simpanannya.

Hingga kini Tante yang masih memberi mereka uang belanja. Yang dua sudah menikah lagi, jadi beban sudah lepas.”

 

Perbincangan beberapa jam dengan seorang bijak melebihi kebijaksanaan yang diperoleh dari membaca puluhan buku, demikian kata orang bijak.

Bercengkerama dengan Tante Lely menyadarkan saya akan sosok wanita yang tegar, bijak, dan berpikir jernih. Beliau rela berkorban bertahun-tahun, berbesar hati membesarkan anak-anak para madu, demi memenangkan suami dan menjaga keutuhan keluarga pada akhirnya.

Banyak yang menjuluki wanita sebagai makhluk yang dikuasai emosi. Tidak demikian dengan Tante Lely. Strategi apik dan cerdas, dijalaninya dengan tekun dan jiwa besar. Tanpa emosi.

Dalam perjalanan pulang, kisah Tante Lely terus menari-nari di pelupuk mata. Hidup memang penuh misteri. Hanya pribadi yang tegar dan cerdik dapat mengalahkannya.

 

 

☕,

Yenny Indra
www.mpoin.com

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here